Wednesday, May 18, 2011

Psikologi Perkembangan Anak & Remaja


Buku Psikologi Perkembangan Anak & Remaja ini merupakan buku karya Dr. H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd. Buku ini membahas tentang psikologi perkembangan anak & remaja dari beberapa perspektif ilmuan Barat yang melakukan penelitian terhadap beberapa sample.

Problema anak lahir dari ketidakpahaman kita sebagai orang tua. Maka pemanfaatan temuan-temuan psikolog perkembangan tentang proses perubahan setiap aspek perkembangan :
1.      Penyusunan kurikulum
2.      Penetapan & penyusunan sekuensi materi pelajaran
3.      Penerapan pendekatan/ metode pembelajaran
4.      Penggunaan alat peraga
5.      Penyusunan evaluasi hasil belajar
6.      Penyelenggaraan program bimbingan & konseling

Dalam pengkajian Psikologi perkembangan dipelajari tentang perubahan tingkah laku & kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati (Ross Vasta, 1992)

Tujuan penelitian perkembangan :
1.      Memberikan gambaran tentang tingkah laku anak yang meliputi pertanyaan-pertanyaan seperti : kapan bayi mulai berjalan? Apa keterampilan sosial yang khas bagi anak usia 4 tahun? Bagaimana anak usia kelas 6 memecahkan konflik dengan teman-temannya?
2.      Mengidentifikasi faktor penyebab & proses yang melahirkan perubahan perilaku dari satu perkembangan berikutnya. Faktor-faktor ini meliputi warisan genetika, karakteristik biologis & struktur otak, lingkungan fisik & sosial dalam kehidupan anak & pengalaman-pengalaman anak.

Beberapa Teori Perkembangan

1.      Pendekatan perkembangan kognitif, kunci untuk memahami tingkah laku anak terletak pada pemahaman tentang bagaimana pengetahuan tersebut terstruktur dalam berbagai aspeknya. Ada 3 model perkembangan kognitif :
a.      Model dari Piaget, intelegensi bukan sesuatu yang dimiliki anak, tapi yang dilakukannya. Perkembangan kognitif (intelegensi) meliputi 4 tahap / periode dibawah ini

Tabel perkembangan kognitif menurut Piaget
Periode
Usia
Deskripsi Perkembangan
1.    Sensorimotor
0-2 tahun
Pengetahuan anak diperoleh melalui interaksi fisik, baik dengan orang lain/objek(benda), skema-skemanya baru berbentuk refleks-refleks sederhana, seperti : menggenggam/mengisap
2.    Praoperasional
2-6 tahun
Anak mulai menggunakan simbol-simbol untuk merepresentasi dunia (lingkungan) secara kognitif. Simbol-simbol itu seperti kata-kata & bilangan yang dapat menggantikan objek, peristiwa & kegiatan (tingkah laku yang tampak)
3.    Operasi konkret
6-11 tahun
Anak sudah dapat membentuk operasi-operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki. Mereka dapat menambah,mengurangi & mengubah. Operasi ini memungkinkannya untuk dapat memecahkan masalah secara logis.
4.    Operasi formal
11 tahun -dewasa
Periode ini merupakan operasi mental tingkat tinggi. Disini, anak (remaja) sudah dapat berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa hipotesis/ abstrak, tidak hanya dengan objek-objek konkret. Remaja sudah dapat berpikir untuk memecahkan masalah melalui penggunaan alternatif yang ada.
b.      Model pemrosesan informasi, meliputi 3 hal:
1.      Input : proses informasi dari lingkungan/ stimulasi (rangsangan) yang masuk kedalam reseptor-reseptor panca indera dalam bentuk penglihatan suara & rasa.
2.      Proses : pekerjaan otak untuk mentransformasikan informasi/ stimulasi dalam cara yang beragam yang meliputi mengolah/menyusun informasi kedalam bentuk-bentuk simbolik,membandingkan dengan informasi sebelumnya, memasukkan ke dalam memori & menggunakannya bila diperlukan.
3.      Output : yang berbentuk tingkah laku, seperti : berbicara, menulis, interaksi sosial dsb.

c.       Model kognisi sosial, kebudayaan telah mengajari anak tentang apa yang dipikirkan & bagaimana cara berpikir. Lev Vygotsky meyakini bahwa perkembangan kognitif menghasilkan proses sosio instruksional yang karenanya anak belajar saling tukar pengalaman dalam memecahkan masalah dengan orang lain, seperti orang tua, guru, saudara & teman sebaya. Perkembangan merupakan proses internalisasi terhadap kebudayaan yang membentuk pengetahuan & alat adaptasi yang wahana utamanya melalui bahasa/ komunikasi verbal. Kognisi sosial = pengetahuan tentang lingkungan sosial dan hubungan interpersonal. Model ini menekankan tentang dampak/ pengaruh pengalaman sosial terhadap perkembangan kognitif. Tokoh dari perkembangan ini yaitu Lev Vygosky (1886-1934) ahli psikologi dari Rusia. Teori ini menekankan tentang kebudayaan sebagai faktor penentu bagi perkembangan individu. Diyakini, bahwa hanya manusia yang dapat menciptakan kebudayaan & setiap anak manusia berkembang dalam konteks kebudayaannya. Kebudayaan memberikan 2 kontribusi terhadap perkembangan intelektual anak : anak memperoleh banyak sisi pemahamannya & anak memperoleh banyak cara berpikir/ alat-alat adaptasi intelektual (bahasa)
2.      Pendekatan belajar/lingkungan, teori-teori belajar/lingkungan berakar dari asumsi bahwa tingkah laku anak diperoleh melalui pengkondisian (conditioning) dan prinsip-prinsip belajar. Disini dibedakan antara tingkah laku yang dipelajari dengan yang temporer (tidak dapat diamati/ yang berdasarkan proses biologis) dalam hal ini Skinner membedakan “respondent behavior” dengan “operant behavior”.
a.      Respondent behavior, merupakan respons yang didasarkan kepada refleks yang dikontrol stimulus. Respon ini terjadi ketika ada stimulus dan tidak terjadi apabila stimulus tidak ada. Dalam kehidupan manusia, tingkah laku responden terjadi selama masa anak yang termasuk didalamnya refleks, seperti : mengisap & menggenggam. Anak-anak juga orang dewasa biasa menampilkan tingkah laku responden yaitu dalam bentuk respon fisiologis (seperti bersin) dan respon emosional (seperti sedih & marah)
b.      Operant behavior, yaitu tingkah laku sukarela yang dikontrol oleh dampak/konsekuennya. Pada umumnya dapat tingkah laku yang menyenangkan cenderung akan diulang kembali, sedangkan yang tidak menyenangkan cenderung ditinggalkan (tidak diulang kembali)

Ada 4 tipe cara pengkondisian dalam kegiatan belajar :
1.      Habituasi, yaitu bentuk belajar sederhana yang melibatkan tingkah laku responden dan terjadi ketika respon refleks menghilang karena diperolehnya stimulus yang samasecara berulang. Seperti : jika kita bertepuk tangan di dekat bayi maka dia akan memperlihatkan respon kekagetannya/keterkejutannya dengan membalikkan seluruh badannya/menoleh. Apabila bertepuk tangan diulang-ulang dengan frekuensi yang relatif sama (sekitar 15 detik) sekali maka respons kekagetannya akan menghilang
2.      Respondent conditioning (classical) merupakan salah satu bentuk belajar yang netral, melibatkan refleks dimana stimulus memperoleh kekuatan untuk mendapatkan respon reflektif
3.      Operant conditioning, bentuk belajar dimana tingkah laku operan berubah karena dipengaruhi oleh dampak tingkah laku tersebut. Dampak yang membuat suatu respons terjadi kembali disebut “reinforcer” seperti : (a) seorang anak meminjamkan boneka kepada temannya, karena dengan melakukan perbuatan tersebut ‘anakitu sering mendapatkan pinjaman serupa dari temannya dan (b) anak menangis di toko swalayan karena kebiasaan menangisnya itu menyebabkan ibunya membelikan boneka/permen.
4.      Discriminating learning tipe belajar yang sangat erat dengan ‘operant conditioning’ kadang-kadang tingkah laku yang sama dari anak yang sama menghasilkan dampak yang berbeda, bergantung pada keadaan, seperti : kegiatan agresif (menyerang) mungkin akan mendapat pujian pada saat bermain sepak bola tetapi akan mendapat hukuman apabila dilakukan diruang kelas.

Teori lain dari pendekatan ini yaitu model belajar sosial, model ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Albert Bandura yang lebih mengajukan peranan faktor-faktor kognitif dari pada analisis tingkah laku. Asumsi terpentingnya adalah bahwa belajar observasional terjadi ketika tingkah laku observer (anak) berubah sebagai hasil dari pandangannya terhadap tingkah laku seorang model (seperti orang tua, guru, saudara, teman, pahlawan, bintang film dll). Hal yang sangat penting dari ‘modeling’ adalah mencontoh tingkah laku yang di observasi dalam bentuk yang umum. Bandura meyakini bahwa belajar melalui observasi (observational learning/ modeling itu melibatkan 4 proses, yaitu: (1) attentional, yaitu proses dimana observer/anak menaruh perhatian terhadap tingkah laku/ penampilan model [orang yang diimitasi], (2) retention yaitu proses yang merujuk kepada upaya anak untuk memasukkan informasi tentang model, seperti karakteristik penampilan fisiknya, mental & tingkah lakunya kedalam memori (3) production, yaitu proses mengontrol tentang bagaimana anak dapat mereproduksi respons/ tingkah laku model. Kemampuan mereproduksi ini bisa berbentuk keterampilan fisik/kemampuan mengidentifikasi tingkah laku model (4) motivational yaitu proses pemilihan tingkah laku model yangdiimitasi oleh anak. Dalam proses ini terdapat faktor penting yang mempengaruhinya yaitu ‘reinforcement’/’punishment’, apakah terhadap model / langsung kepada anak)

3.      Pendekatan Imam Al-Ghazali
Al-Ghazali berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan membawa fitrah yang seimbang dan sehat. Kedua orangtuanyalah yang memberikan agama kepada mereka. Demikian pula anak dapat terpengaruh oleh sifat-sifat yang buruk dari lingkungan yang dihidupinya dan corak hidup yang memberikan peranan kepadanya dan dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya. Ketika dilahirkan, keadaan tubuh anak belum sempurna. Kekurangan ini diatasinya dengan latihan & pendidikan yang ditunjang dengan makanan. Demikian pula halnya dengan tabiat yang difitrahkan kepada anak yang merupakan kebajikan yang diberikan al-khalik kepadanya. Tabiat ini dalam keadaan berkekurangan (dalam keadaan belum berkembang dengan sempurna) dan dapat disempurnakan serta diperindah dengan pendidikan yang baik, yang oleh al-Ghazali dipandang sebagai salah satu proses yang penting & tidak mudah. Al-Ghazali mengatakan bahwa penyembuhan badan memerlukan seorang dokter yang tahu tentang tabiat badan serta macam-macam penyakitnya dan tentang cara-cara penyembuhannya. Demikian pula halnya dengan penyembuhan jiwa & pendidikan akhlak. keduanya membutuhkan pendidik yang tahu tentang tabiat dan kekurangan jiwa manusia serta tentang cara memperbaiki dan mendidiknya. Kebodohan dokter akan merusak kesehatan orang sakit. 

Begitu pun kebodohan guru & pendidik akan merusak akhlak muridnya. Sesungguhnya setiap penyakit memiliki obat dan cara penyembuhannya, al-Ghazali berkata : “...Demikianlah guru yang diikuti yang mengobati jiwa murid-muridnya dan hati orang-orang yang diberi petunjuk, hendaknya tidak membebani mereka dengan berbagai latihan & tugas dalam bidang khusus dengan beban metode yang khusus pula sebelum ia mengetahui akhlak serta penyakit mereka. Apabila dokter mengobati seluruh pasien dengan obat yang sama, maka ia akan membunuh banyak manusia. demikian pula halnya dengan guru apabila ia mengarahkan seluruh murid kepada satu macam pola yang sama, niscaya ia  akan menghancurkan mereka dengan mematikan hati mereka. Oleh karena itu, hendaknya guru memperhatikan penyakit, keadaan, usia dan tabiat serta motivasi peserta didiknya. Atas dasar itulah hendaknya ia memprogram pendidikannya”

Al-Ghazali tidak menganjurkan penggunaan satu metode saja dalam menghadapi permasalahan akhlak serta pelaksanaan pendidikan anak. Dia menganjurkan agar guru memilih metode pendidikan sesuai dengan usia dan tabiat anak, daya tangkap dan daya tolaknya (daya persepsi dan daya rejeksinya) sejalan dengan situasi kepribadiannya. Dengan ini, sekali-kali al-Ghazali memperhatikan masalah perbedaan individual didalam melaksanakan pendidikan.

Dalam upaya mengembangkan akhlakul karimah (akhlak mulia) anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.      Menjauhkan anak dari pergaulan yang buruk
2.      Membiasakannya untuk bersopan santun
3.      Memberikan pujian kepada anak yang melakukan amal shaleh, misalnya berbuat sopan dan mencela anak yang melakukan kezaliman/kelaliman
4.      Membiasakannya mengenakan pakaian yang bersih dan rapih
5.      Menganjurkan mereka untuk berolah raga
6.      Menginzinkannya bermain setelah belajar
7.      Dll

Memahami Perkembangan Anak
Ada beberapa point yang harus diperhatikan untuk mengembangkan potensi anak agar optimal, yaitu :
1.      Masa anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan terjadinya perubahan dalam banyak aspek perkembangan
2.      Pengalaman masa kecil memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya
3.      Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu mereka mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya
4.      Melalui pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, dapat diantisipasi tentang berbagai upaya untuk memfasilitasi perkembangan tersebut, baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Disamping itu, dapat diantisipasi juga tentang upaya untuk mencegah berbagai kendala/ faktor-faktor yang mungkin akan mengkontaminasi (meracuni) perkembangan anak.

Konsep Dasar Perkembangan

Pengertian dan ciri-ciri perkembangan

Perkembangan = perubahan yang progresif dan kontinue dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati (The progressive and continous change in the organism from birth to death). Impulsif = dorongan untuk bertindak sebelum berpikir.

Setiap fase perkembangan memiliki ciri khas, prinsip ini bisa dijelaskan dengan contoh berikut : (a) sampai usia 2 tahun, anak memusatkan untuk mengenal lingkungannya, menguasai gerak-gerik fisik & belajar berbicara, (b) pada usia 3-6 tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia sosial (belajar bergaul dengan orang lain)

Tahap perkembangan berdasarkan analisis biologis
Sekelompok ahli menentukan pembabakanitu berdasarkan keadaan/proses pertumbuhan tertentu, yaitu :
Aristoteles menggambarkan perkembangan individu, sejak anak sampai dewasa itu kedalam 3 tahapan. Setiap tahapan lamanya 7 tahun, yaitu : (1) Tahap I : dari 0-7 tahun (masa anak kecil, masa bermain), (2) Tahap II : dari 7-14 tahun (masa anak, masa sekolah dasar), (3) Tahap III : dari 14-21 tahun (masa remaja/pubertas, masa peralihan dari usia anak menjadi orang dewasa)
 Penahapan ini didasarkan pada gejala dalam perkembangan fisik. Hal ini dijelaskan bahwa antara tahap I dan tahap II dibatasi oleh pergantian gigi, antara tahap II dan tahap III ditandai dengan mulai berfungsinya organ-organ reproduksi

Kretscmer, mengemukakan bahwa dari lahir hingga dewasa, individu melewati 4 tahapan : (1) Tahap I : dari 0-3 tahun, fullungs (pengisian) dimana anak tampak pendek gemuk, (2) Tahap II : dari 3-7 tahun, streckungs dimana anak tampak langsing meninggi, (3)Tahap III : dari 7-13 tahun, anak tampak pendek gemuk kembali, (4)Tahap IV dari 13-20 tahun, anak nampak kembali langsing

Elizabeth Hurlock mengemukakan penahapan perkembangan individu, yaitu : (1) Tahap I, fase prenatal, sebelum lahir yaitu 9bulan/280hari, (2)Tahap II, infancy/orok yaitu sejak lahir-usia 10/14 hari, (3) tahap III, babyhood(bayi) dari 2 minggu -2 tahun, (4)Tahap IV, childhood (kanak-kanak) mulai dari 2 tahun-masa remaja, (5)Tahap V, adolesence/puberty mulai usia 11/13 tahun-21 tahun.

Tahap Perkembangan Berdasarkan Didaktis
Dasar didaktis / instruksional yang dipergunakan oleh para ahli ada beberapa kemungkinan :
1.      Apa yang harus diberikan kepada anak didik pada masa-masa tertentu?
2.      Bagaimana caranya mengajar/menyajikan pengalaman belajar kepada anak didik pada masa-masa tertentu?
3.      Kedua hal tersebut dilakukan secara bersamaan yang dapat digolongkan ke dalam penahapan berdasarkan didaktis dimana bahan pengajaran (bahan pendidikan) yang sesuai dengan perkembangan anak didik & harus dipergunakan metode penyampaian yang sesuai dengan perkembangannya.

Fase-fase perkembangan individu

Tahap Perkembangan
Usia
Masa Usia Pra sekolah
0-6 tahun
Masa usia sekolah dasar
6-12 tahun
Masa usia sekolah menengah
12-18 tahun
Masa usia mahasiswa
18-25 tahun


Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan

Hereditas/ keturunan merupakan aspek individu yang bersifat bawaan & memiliki potensi untuk berkembang seberapa jauh perkembangan individu itu terjadi & bagaimana kualitas perkembangannya, bergantung pada kualitas hereditas & lingkungan yang mempengaruhinya. Lingkungan adalah faktor penting disamping hereditas yang menentukan perkembangan individu. Lingkungan meliputi fisik, psikis, sosial & religius.

Fungsi keluarga secara psikososiologis :
1.      Pemberi rasa aman bagi anak & anggota keluarga lainnya
2.      Sumber pemenuhan kebutuhan, fisik & psikis
3.      Sumber kasih sayang & penerimaan
4.      Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakatnya yang baik
5.      Pemberi bimbingan bagi pengembangan kepribadian
6.      Stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi baik disekolah maupun masyarakat
7.      Pembimbing dalam mengembangkan aspirasi

Keluarga yang fungsional ditandai dengan karakteristik :
1.      Saling memperhatikan & mencintai
2.      Bersikap terbuka & jujur
3.      Orang tua mau mendengar anak, menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya
4.      Ada sharing masalah/ pendapat diantara anggota keluarga
5.      Mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya
6.      Saling menyesuaikan diri & mengakomodasi
7.      Orang tua melindungi (mengayomi) anak
8.      Komunikasi antar anggota keluarga berlangsung dengan baik
9.      Keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak
10.  Mampu menyikapi perubahan yang terjadi

Alexander A. Schneiders (1960) mengemukakan : keluarga ideal ditandai dengan :
1.      Minimnya perselisihan antar orang tua/ orang tua dengan anak
2.      Ada kesempatan untuk mengatakan keinginan
3.      Penuh kasih sayang
4.      Penerapan disiplin yang tidak keras
5.      Ada kesempatan untuk bersikap mandiri dalam berpikir, merasa & berperilaku
6.      Saling menghormati, menghargai (mutual respect) di antara orang tua dengan anak
7.      Ada musyawarah keluarga dalam memecahkan masalah
8.      Menjalin kebersamaan
9.      Orang tua memiliki emosi stabil
10.  Berkecukupan dalam bidang ekonomi
11.  Mengamalkan nilai-nilai agama

Untuk merespon berbagai masalah yang mengganggu keharmonisan keluarga, covey mengajukan resep yang dinamakan The 7 habits of highly effective families. Effective family = a beautiful family culture
1.      Semangat keluarga, perasaan, iklim/atmosfir keluarga
2.      Karakter keluarga, kedalaman kualitas & kematangan interaksi
3.      Cara para anggota untuk empati
4.      Spirit/perasaan yang mengembangkan pola tingkah laku kolektif yang dengan adanya interaksi keluarga

7 kebiasaan keluarga yang efektif :
1.      Be proactive, menjadi pembaharu dalam keluarga
2.      Begin with the endin mind, misi pernikahan/keluarga
3.      Put first things first
4.      Think win-win, para anggota keluarga berpikir dalam tatanan yang saling menguntungkan, mereka memelihara dukungan & sikap saling menghormati
5.      Seek first to understand... then to be understood (memecahkan masalah keluarga melalui komunikasi yang empatik). Para anggota keluarga kali pertama mendengarkan secara intensif untuk memahami pikiran dan perasaan anggota lainnya sehingga mampu berkomunikasi secara efektif terhadap pikiran & perasaan sendiri. Melalui pemahaman, mereka membangun hubungan kepercayaan dan kasih sayang yang mendalam
6.        Synergize, para anggota keluarga mengembangkan kekuatan-kekuatan keluarga & para anggotanya melalui sikap menghormati & penilaian terhadap perbedaan masing-masing dalam hal ini keutuhan menjadi lebih penting
7.      Sharpen the saw (‘memperuncing gergaji’), keluarga mengembangkan efektivitasnya melalui pembaharuan pribadi dan keluarga secara reguler dalam 4 bidang : memelihara gizi & mengelola stres, sosial/emosional (menjalin persahabatan, memberikan bantuan, mendengarkan orang lain secara empatik & menciptakan sinergi), spiritual (berdoa, shalat, membaca al-qur’an), mental (membaca, menulis, mengembangkan bakat & belajar keterampilan)

Untuk mengembangkan/menanamkan ke7 kebiasaan tersebut, covey mengajukan 4 prinsip peranan keluarga :
1.      Modelling (example of trustworthness), orang tua adalah contoh / model bagi anak, cara berpikir & berbuat anak dibentuk oleh cara berpikir & berbuat ortunya
2.      Mentoring yaitu kemampuan untuk menjalin/ membangun hubungan, investasi emosional (kasih sayang kepada orang lain)/ pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur. Ada 5 cara untuk memberikan kasih sayang kepada orang lain yaitu : (1) empathizing(mendengarkan hati orang lain dengan hati sendiri), (2)sharing: berbagi wawasan, emosi & keyakinan, (3) affirming, memberikan ketegasan (penguatan) kepada orang lain dengan kepercayaan, penilaian, konfirmasi, apresiasi & dorongan, (4) praying, mendoakan orang lain secara ikhlas dari jiwa yang paling dalam, (5)sacrificing: berkorban untuk orang lain
3.      Organizing, untuk meluruskan struktur & sistem keluarga dalam rangka untuk membantu menyelesaikan hal-hal yang penting
4.      Teaching: ortu =guru bagi anak-anaknya, peran ortu sebagai guru = menciptakan conscious competence pada diri anak yaitu mereka memahami tentang apa yang mereka kerjakan dan alasan tentang mengapa mereka mengerjakan itu.

Terdapat beberapa pola sikap/perlakuan ortu terhadap anak yang masing-masing memiliki pengaruh tersendiri terhadap kepribadian anak (Hurlock, 1956) pola-pola tersebut dapat disimak dibawah ini:

Sikap/perlakuan ortu & dampaknya terhadap kepribadian anak

Pola perlakuan ortu
Perilaku ortu
Profil tingkah laku anak
1.    Overprotection (terlalu melindungi)
1.    Kontak yang belebihan dengan anak
2.    Perawatan /pemberian bantuan kepada anak yang terus menerus, meskipun anak sudah mampu merawat dirinya sendiri
3.    Mengawasi kegiatan anak secara berlebihan
4.    Memecahkan masalah anak
1.   Perasaan tidak aman
2.  Agresif & dengki
3.   Mudah merasa gugup
4.  Melarikan diri dari kenyataan
5.  Sangat tergantung
6.  Ingin menjadi pusat perhatian
7.  Bersikap menyerah
8.  Lemah dalam ego strength. Aspiratif, toleransi terhadap frustasi
9.  Kurang mampu mengendalikan emosi
10.              Menolak tanggungjawab
11.              Kurang percaya diri
12.              Mudah terpengaruh
13.              Peka terhadap kritik
14.              Bersikap ‘Yes Men’
15.              Egois/selfish
16.              Suka bertengkar
17.              Troublemaker
18.              Sulit dalam bergaul
19.              Mengalami ‘homesick’
2.      Permissiveness (pembolehan)
1.    Memberikan kebebasan untuk berpikir/berusaha
2.    Menerima gagasan/pendapat
3.    Membuat anak merasa diterima & merasa kuat
4.    Toleran & memahami kelemahan anak
5.    Cenderung lebih suka memberi yang diminta anak
1.      Pandai mencari  jalan keluar
2.      Dapat bekerjasama
3.      Percaya diri
4.      Penuntut & tidak sabaran
3.      Rejection (penolakan)
1.      Bersikap masa bodoh
2.      Bersikap kaku
3.      Kurang memperdulikan kesejahteraan anak
4.      Menampilkan sikap permusuhan/dominasi terhadap anak
1.  Agresif (mudah marah, gelisah, tidak patuh, keras kepala, suka bertengkar &nakal)
2.  Submissive (kurang dapat mengerjakan tugas, pemalu, suka mengasingkan diri, mudah tersinggung,penakut)
3.  Sulit bergaul
4.  Pendiam
5.  Sadis
4 Acceptance (penerimaan)
1.    Memberikan perhatian & cinta kasih yang tulus kepada anak
2.    Menempatkan anak dalam posisi yang penting didalam rumah
3.    Mengembangkan hubungan yang hangat dengan anak
4.    Bersikap respek terhadap anak
5.    Mendorong anak untuk menyatakan perasaan/pendapatnya
6.    Berkomunikasi dengan anak secara terbuka & mau mendengarkan masalahnya
1.  Mau bekerjasama (kooperatif)
2.  Bersahabat
3.  Loyal
4.  Emosinya stabil
5.  Ceria & bersikap optimis
6.  Mau menerima tanggungjawab
7.  Jujur
8.  Dapat dipercaya
9.  Memiliki perencanaan yang jelas untuk mencapai masa depan
10.bersikap realistis (memahami kekuatan & kelemahan dirinya secara objektif)
5.Domination (dominasi)
Mendominasi anak
1.      Bersikap sopan & sangat berhati-hati
2.      Pemalu, penurut, inferior & mudah bingung
3.      Tidak dapat bekerjasama
6.Submission (penyerahan)
1. senantiasa memberikan sesuatu yang diminta anak
2.  membiarkan anak berperilaku semaunya dirumah
1. tidak patuh
2. tidak bertanggungjawab
3. agresif, teledor, lalai
4. bersikap otoriter
5. terlalu percaya diri
7.      Punitiveness/ overdiscipline (terlalu disiplin)
1.    Mudah memberikan hukuman
2.    Menanamkan kedisiplinan secara keras
1.    Impulsif
2.    Tidak dapat mengambil keputusan
3.    Nakal
4.    Sikap bermusuhan/agresif

Peck (Loree, 1970) telah meneliti hubungan antara karakteristik emosional dan pola perlakuan keluarga dengan elemen-elemen struktur kepribadian remaja : hasil temuannya menunjukkan bahwa :
1.      Remaja yang memiliki ‘ego strength’ (kematangan emosional, integrasi pribadi bertingkah laku rasional, persepsi diri & sosial yang akurat & keinginan untuk menyesuaikan diri dengan harapan-harapan masyarakat), secara konsisten berkaitan erat dengan pengalamannya dilingkungan keluarga yang saling mempercayai & menerima
2.      Remaja yang memiliki “super ego strength” (berperilaku secara efektif yang dibimbing oleh kata hatinya) sangat berkaitan erat dengan keteraturan & konsistensi kehidupan keluarganya
3.      Remaja yang ‘friendsliness’ & ‘spontanetty’ berhubungan erat dengan iklim keluarga yang harmonis
4.      Remaja yang bersikap bermusuhan & memiliki perasaan gelisah/cemas terhadap dorongan-dorongan dari dalam, berkaitan erat dengan keluarga yang otoriter

Diana Baumrind (Weiten & Lioyd, 1994) mengemukakan hasil penelitiannya melalui observasi & wawancara terhadap siswa TK. Penelitin ini dilakukan dirumah & sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya perlakuan ortu (parenting style) & kontribusinya terhadap kompetensi sosial, emosional & intelektual siswa

Pengaruh ‘Parengting Style’ terhadap perilaku anak
Parenting styles
Sikap/perilaku ortu
Profil perilaku anak
1.    Authoritarian
1.    Sikap ‘acceptance’ rendah, namun kontrolnya tinggi
2.    Suka menghukum secara fisik
3.    Bersikap mengomando (mengharuskan / memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi)
4.    Bersikap kaku (keras)
5.    Cenderung emosional & bersikap menolak
1.    Mudah tersinggung
2.    Penakut
3.    Pemurung, tidak bahagia
4.    Mudah terpengaruh
5.    Mudah stress
6.    Tidak memiliki arah masa depan yang jelas
7.    Tidak bersahabat
2.    Permissive
1.    Sikap ‘acceptance’-nya tinggi, namun kontrolnya rendah
2.    Memberi kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan/ keinginannya
1.    Bersikap impulsif & agresif
2.    Suka memberontak
3.    Kurang memiliki rasa percaya diri
4.    Suka mendominasi
5.    Tidak jelas arah hidupnya
6.    Prestasinya rendah
3.    Authoritative
1.    Sikap ‘acceptance’ & kontrolnya tinggi
2.    Bersikap responsif terhadap kebutuhan anak
3.    Mendorong anak untuk menyatakan pendapat/pertanyaan
4.    Memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik & buruk
1.    Bersikap bersahabat
2.    Memiliki rasa percaya diri
3.    Mampu mengendalikan diri
4.    Bersikap sopan
5.    Mau  bekerja sama
6.    Memiliki rasa ingin tahunya yang tinggi
7.    Mempunyai tujuan/arah hidup yang jelas
8.    Berorientasi terhadap prestasi


Selanjutnya, Braumrind mengemukakan tentang dampak ‘parenting style’ terhadap prilaku remaja,yaitu :
1.      Remaja yang ortunya bersikap’authoritarian’, cenderung bersikap bermusuhan & memberontak
2.      Remaja yang ortunya ‘permisif’, cenderung berperilaku bebas
3.      Remaja yang ortunya ‘authotitative’, cenderung terhindar dari kegelisahan, kekacauan/perilaku nakal

Mengkaji hal yang sama, Weiten & Lioyd (1994) mengemukakan 5 prinsip ‘effective parenting’ yaitu :
1.      Menyusun/membuat standar (aturan perilaku) yang dapat dipahami, supaya anak anak diharapkan untuk berperilaku dengan cara yang tepat sesuai dengan usianya
2.      Menaruh perhatian terhadap perilaku anak yang baik & memberikan reward. Perlakuan ini perlu dilakukan sebagai pengganti dari kebiasaan ortu pada umumnya yaitu bahwa mereka suka menaruh perhatian kepada anak pada saat anak berperilaku menyimpang namun membiarkan ketika melakukan yang baik
3.      Menjelaskan alasannya (tujuannya) ketika meminta anak untuk melakukan sesuatu
4.      Mendorong anak untuk menelaah dampak perilakunya terhadap orang lain
5.      Menegakkan aturan secara konsisten

Kelas sosial & status ekonomi

Maccoby & Mcloyd (sigelman & shaffer, 1995) telah membandingkan ortu kelas menengah & atas dengan kelas bawah/pekerja. Hasilnya menunjukkan bahwa ortu kelas bawah/pekerja cenderung:
·         Sangat menekankan kepatuhan & respek terhadap otoritas
·         Lebih restriktif (keras)& otoriter
·         Kurang memberikan alasan kepada anak
·         Kurang bersikap hangat & memberi kasih sayang kepada anak

Pikunas (1976) mengemukakan pendapat Becker, Deutsch, Kohn & Sheldon, tentang kaitan antara kelas sosial dengan cara / teknik ortu dalam mengatur (mengelola/memperlakukan) anak, yaitu: (1)kelas bawah (lower class), cenderung lebih keras & lebih sering menggunakan hukuman fisik dibandingkan dengan kelas menengah. Anak-anak dari kelas bawah cenderung ‘lebih agresif’, independendll. (2)kelas menengah, cenderung lebih memberikan pengawasan & perhatiannya sebagai ortu. Para Ibunya merasa bertanggungjawab terhadap tingkah laku anak-anaknya dan menerapkan kontrol yang lebih halus, mereka memililki ambisi untuk meraih status yang lebih pendidikan/ latihan profesional. (3)kelas atas (upper class), cenderung lebih memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan-kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidikan yang reputasinya tinggi & biasanya senang mengembangkan apresiasi, estetikanya, anaknya cenderung memiliki rasa percaya diri.

Orang tua yang mengalami tekanan ekonomi/perasaan tidak mampu mengatasi masalah finansialnya, cenderung menjadi depresi & mengalami konflik keluarga yang akhirnya mempengaruhi masalah remaja seperti kurang harga diri, prestasi belajar rendah, kurang dapat bergaul dengan teman, mengalami masalah penyesuaian diri (karena depresi & agresi)
Michael Rutter mendefiniskan sekolah yang efektif itu sebagai sekolah yang memajukan, meningkatkan prestasi, akademik, keterampilan sosial, sopan santun, sikap positif terhadap belajar, rendahnya angka absen siswa & memberikan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan siswa agar mandiri.

Karakteristik guru yang efektif & tidak efektif

Perilaku yang efektif
1.      Menampilkan sikap yang bersemangat
2.      Memperlihatkan perhatian terhadap siswa & kegiatan kelas
3.      Bergirang hati & optimis
4.      Memiliki kemampuan mengendalikan diri & tidak mudah bingung
5.      Senang bergurau/humor
6.      Mengakui/menyadari kesalahan sendiri
7.      Bersikap adil & objektif dalam memperlakukan siswa
8.      Bersikap sabar
9.      Menunjukkan sikap memahami & simpati dalam bekerja dengan siswa
10.  Bersahabat & ramah dalam bergaul dengan siswa
11.  Membantu siswa dalam memecahkan masalahnya (pribadi/pendidikan)
12.  Memberikan komentar &penghargaan kepada siswa yang melakukan tugas dengan baik
13.  Menerima & menghargai usaha siswa
14.  Memiliki kemampuan untuk mengantisipasi reaksi orang lain
15.  Mendorong siswa untuk mencoba melakukan sesuatu dengan cara yang terbaik
16.  Merencanakan & mengorganisasikan prosedur pembelajaran dikelas
17.  Bersifat fleksibel dalam merencanakan prosedur pembelajaran
18.  Mengatisipasi kebutuhan siswa
19.  Menstimulasi siswa melalui materi & teknik yang menarik
20.  Mendemonstrasikan & menerangkan materi pembelajaran dengan jelas]
21.  Memberikan tugas dengan jelas
22.  Mendorong siswa untuk memecahkan masalahnya sendiri & mengevaluasi hasilnya
23.  Menegakkan disiplin dengan cara yang positif
24.  Memberikan bantuan kepada siswa secara ikhlas
25.  Mengetahui secara awal & mencoba memecahkan berbagai masalah potensial

Perilaku Guru Yang Tidak Efektif
1.      Sikap apatis & jenuh
2.      Memperlihatkan kurang perhatian terhadap siswa & kegiatan kelas
3.      Depresi, pesimis & tidak bahagia
4.      Mudah naik darah & mudah bingung
5.      Terlalu serius
6.      Tidak menyadari kesalahan sendiri
7.      Tidak bersikap objektif terhadap siswa
8.      Tidak sabar
9.      Bersikap kurang simpati & sering melecehkan (mencemooh) siswa]
10.  Kurang bersahabat/kurang ramah dalam bergaul dengan siswa
11.  Kurang memperhatikan masalah siswa
12.  Tidak memberikan komentar/penghargaan kepada siswa yang melakukan tugas dengan baik
13.  Bersikap curiga terhadap motif siswa
14.  Kurang memiliki kemampuan untuk mengantisipasi reaksi orang lain
15.  Tidak berusaha memberikan dorongan kepada siswa
16.  Tidak merencanakan & mengorganisasikan prosedur pembelajaran
17.  Perencanaan prosedur pembelajaran bersifat kaku
18.  Gagal dalam mengantisifasi kebutuhan siswa
19.  Materi & teknik pembelajaran tidak menarik perhatian siswa
20.  Kurang jelas dalam mendemonstrasikan & menerangkan materi
21.  Kurang jelas dalam memberikan tugas
22.  Kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalahnya sendiri
23.  Kurang menegakkan disiplin secara positif
24.  Memberikan bantuan dengan setengah hati (ga ikhlas)
25.  Gagal dalam memahami & memecahkan masalah yang potensial

Kelompok Teman Sebaya
Aspek kepribadian remaja yang berkembang secara menonjol dalam pengalamannya bergaul dengan teman sebaya :
a.      Social cognition: kemampuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan, motif & tingkah laku dirinya & orang lain. Kemampuannya memahami orang lain, memungkinkan remaja untuk lebih mampu menjalin hubungan sosial yang lebih baik dengan teman sebayanya.
b.      Konformitas : motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam dengan nilai-nilai, kebiasaan, kegemaran (hobi)/ budaya teman sebayanya
Remaja yang memiliki hubungan yang baik dengan ortunya cenderung dapat menghindarkan diri dari pengaruh negatif teman sebabanya

TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN

Robert Havighurst melalui perspektif psikososial berpendapat bahwa periode yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menuntaskan tugas-tugas perkembangan yang khusus.

“A development task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, successful achievement of wich leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disapproval by society, and difficulty with later task”

“Tugas perkembangan itu suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan & kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya : sementara jika gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan menimbulkan penolakan masyarakat & kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya”

Munculnya tugas-tugas perkembangan bersumber pada faktor-faktor :
1.      Kematangan fisik, seperti : (a)belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki, (b)belajar bersikap
2.      Tuntutan masyarakat secara kultural, seperti : (a)belajar membaca, (b)belajar menulis, (c)belajar berhitung, (d)belajar berorganisasi
3.      Tuntutan dari dorongan & cita-cita individu sendiri, seperti (a)memilih pekerjaan, (b)memilih teman hidup
4.      Tuntutan norma agama, (a)taat beribadah kepada Allah, (b)berbuat baik kepada sesama manusia

Tugas-tugas perkembangan pada setiap fase perkembangan
1.      Tugas-tugas perkembangan pada usia bayi & kanak-kanak (0-6 tahun)
·         Belajar berjalan terjadi pada usia antara 9-15 bulan, pada usia ini tulang kaki,otot & susunan syarafnya telah matang untuk belajar berjalan
·         Belajar memakan makanan padat, hal ini terjadi pada tahun ke 2, sistem alat-alat pencernaan makanan & alat-alat pengunyah pada mulut telah matang untuk hal tersebut.
·         Belajar berbicara: mengeluarkan suara yang berarti & menyampaikannya kepada orang lain dengan perantaraan suara itu yang memerlukan kematangan otot-otot & syaraf dari alat-alat berbicara
·         Belajar buang air & buang air besar sebelum usia 4 tahun, anak pada umumnya belum dapat mengatasi(menahan) pepsi karena perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan belum sempurna. Untuk memberikan pendidikan kebersihan terhadap anak usia dibawah 4 tahun, cukup dengan pembiasaan saja yaitu setiap kali mau buang air, bawalah anak ke WC
·         Memberikan konsep-konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial & alam untuk mencapai kemampuan tersebut (mengenal pengertian-pengertian) diperlukan kematangan sistem syaraf, pengalaman & bimbingan dari orang dewasa.
·         Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara & orang lain
·         Belajar bersikap dalam keseharian

Anak dikuasai oleh hedonisme naif, dimana kesenangan dianggapnya baik & penderitaan dianggapnya buruk, dengan bertambahnya usia, ia harus belajar pengertian tentang baik dan buruk, benar dan salah, sebab sebagai makhluk sosial (bermasyarakat) manusia tidak hanya memperhatikan kepentingan sendiri saja tapi juga harus memperhatikan kepentingan orang lain. Anak mengenal pengertian baik dan buruk, benar dan salah dipengaruhi oleh pendidikan yang diperolehnya.

2.      Tugas-tugas perkembangan pada masa sekolah (6-12 tahun)
·         Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan melalui pertumbuhan fisik & otak, anak belajar & berlari semakin stabil, makin mantap & cepat. Pada masa sekolah, anak sudah sampai pada taraf penguasaan otot, sehingga sudah dapat berbaris, melakukan senam pagi dan permainan-permainan ringan seperti sepak bola, loncat tali, berenang dll
·         Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. Hakikat tugas ini : (1)mengembangkan kebiasaan untuk memelihara badan, meliputi kebersihan, keselamatan diri & kesehatan, (2)mengembangkan sikap positif terhadap diri sendiri dan juga menerima dirinya (baik rupa wajahnya maupun postur tubuhnya) secara positif
·         Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya yakni belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan & situasi yang baru serta teman-teman sebayanya
·         Belajar memainkan peranan sesuai dengan genjer
·         Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung
·         Belajar mengembangkan konsep sehari-hari, ingatan mengenai pengamatan yang telah lalu itu disebut konsep (tanggapan)
·         Mengembangkan kata hati, hakikat tugas ini adalah mengembangkan sikap dan perasaan yang berhubungan dengan norma-norma agama.
·         Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial dan lembaga-lembaga

TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA

Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu & merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat.

William Kay mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja sebagai berikut:
·         Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya
·         Mencapai kemandirian emosional dari ortu/figur-figur yang memiliki otoritas
·         Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya/orang lain, baik secara individual maupun kelompok
·         Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya
·         Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri
·         Memperkuat self control atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip/ falsafah hidup (weltanschauung)
·         Mampu meninggalkan reaksi & penyesuaian diri

Tujuan Perkembangan Masa Remaja

Dari arah
Ke Arah
Kematangan Emosional & Sosial
1.      Tidak toleran & bersikap superior
2.      Kaku dalam bergaul
3.      Peniruan buta terhadap teman sebaya
4.      Kontrol ortu
5.      Perasaan yang tidak jelas tentang dirinya/orang lain
6.      Kurang dapat mengendalikan diri dari rasa marah & sikap permusuhannya
1.      Bersikap toleran & merasa nyaman
2.      Luwes dalam bergaul
3.      Interdependensi & memiliki self esteem
4.      Kontrol diri sendiri
5.      Perasaan mau menerima dirinya & orang lain
6.      Mampu menyatakan emosinya secara konstruktif & kreatif
Kematangan kognitif
1.      Menyenangi prinsip-prinsip umum & jawaban yang final
2.      Menerima kebenaran & sumber otoritas
3.      Memiliki banyak minat/perhatian
4.      Bersikap subyektif dalam menafsirkan sesuatu
1.      Membutuhkan penjelasan tentang fakta dan teori
2.      Memerlukan bukti sebelum menerima
3.      Memiliki sedikit minat/perhatian terhadap gender yang berbeda dan bergaul dengannya
4.      Bersikap objektif dalam menafsirkan sesuatu
Filosofi hidup
1.    Tingkah laku dimotivasi oleh kesenangan belaka
2.    Acuh tak acuh terhadap prinsip-prinsip ideologi & etika
3.    Tingkah lakunya tergantung pada reinforcement (dorongan dari luar)
1.    Tingkah laku dimotivasi oles aspirasi
2.    Melibatkan diri/memiliki perhatian terhadap ideologi dan etika
3.    Tingkah lakunya dibimbing oleh tanggungjawab moral


Ambivalensi (Sikap Mendua)

Target dari pencapaian tugas perkembangan yaitu :
·         Memiliki tujuan hidup yang realitik
·         Mampu mengembangkan persepsi positif terhadap orang lain & mencoba berintegrasi dengan keluarga sendiri secara mandiri
·         Mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan & membangun hubungan dengan beberapa orang dewasa muda dalam masyarakat
·         Ikut berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan
·         Berani bepergian sendiri
·         Meminta nasihat ortu/orang dewasa hanya pada saat mengalami masalah yang rumit
·         Mampu menghadapi kegagalan dengan sikap rasional dengan berupaya mengatasinya secara lebih baik tanpa menyebabkan depresi/regresi

Tugas-tugas Perkembangan Karir Remaja
Aspek
Profil Perilaku
a.      Pengetahuan
1.      Mengetahui program/tujuan sekolah
2.      Mengetahui persyaratan/tuntutan pekerjaan yang diminati
3.      Mengetahui gaji dari pekerjaan yang diminati
4.      Mengetahui tingkat kepuasan para pekerja dalam bidang pekerjaan yang diminati
5.      Mengetahui proses kenaikkan pangkat dalam pekerjaan yang diminati
6.      Mengetahui tugas-tugas pokok yang harus dikerjakan
7.      Mengetahui keterampilan/keahlian yang dituntut/diperlukan
8.      Mengetahui mata pelajaran pokok dalam program studynya
9.      Mengetahui karakteristik pribadinya secara akurat
10.  Mengetahui tentang cara-cara memperoleh pekerjaan yang diminati
b.      Mencari Informasi
1.      Membaca buku/bahan-bahan bacaan lainnya yang berkaitan dengan informasi pekerjaan
2.      Mendiskusikan pilihan-pilihan karir baik dengan ortu, guru dll
3.      Berdiskusi dengan orang-orang yang berpengalaman dalam pekerjaan yang diminatinya
4.      Mengikuti kursus yang mendukung pekerjaan yang diminatinya
c.       Sikap
1.      Meyakini bahwa dia harus mengambil keputusan sendiri meskipun masih memerlukan nasihat orang lain
2.      Mempercayai akan pentingnya pendekatan yang sistematis dalam merencanakan & memecahkan masalah
3.      Bertanggungjawab untuk memperoleh informasi
4.      Meyakini bahwa memecahkan masalah sekolah & pekerjaan merupakan tanggungjawab sendiri
d.      Perencanaan & pengambilan keputusan
1.      Mampu memilih salah satu alternatif pekerjaan dari berbagai pekerjaan yang beragam
2.      Mampu mempertimbangkan berapa lama menyelesaikan sekolah
3.      Dapat merencanakan apa yang harus dilakukan setelah tamat sekolah
4.      Dapat memilih program study yang sesuai dengan minat/kemampuannya
5.      Dapat mengambil keputusan ditempat mana akan bekerja
e.      Keterampilan karir
1.      Dapat menggunakan sumber-sumber informasi tentang karir
2.      Dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan
3.      Dapat meningkatkan perolehan keterampilan akademik/nonakademik
4.      Dapat menggunakan bahan untuk meningkatkan keterampilan
5.      Dapat mengelola waktu secara efektif
6.      Dapat mengomentari ke-shahihan data tentang dirinya
7.      Dapat melakukan kebiasaan bekerja yang efektif seperti bekerjasama dengan orang lain.  


Mengembangkan keterampilan intelektual & konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara

Tugas perkembangan ini bertujuan :
1.      Mengembangkan konsep-konsep hukum, pemerintahan, ekonomi, politik, geografi, hakikat manusia dll
2.      Mengembangkan keterampilan berbahasa & kemampuan nalar (berpikir) yang penting bagi upaya memecahkan masalah-masalah secara efektif

Dasar biologis, sistem otak & syaraf telah mencapai ukuran orang dewasa sekitar usia 14 tahun pertumbuhan otak itu akan lebih matang setelah usia tersebut.

Dasar psikologis, sebagai hasil dari perpaduan unsur-unsur pertumbuhan biologis & keragaman pengalaman dengan lingkungan remaja dapat mengembangkan kemampuan mentalnya. Keragaman individual dalam perkembangan mentalnya menyebabkan keragaman dalam : keterampilan berbahasa, memperoleh konsep-konsep & interes/minat & motivasi.

Tingkat pencapaian tugas perkembangan :
Indikatornya memiliki reputasi sifat-sifat moral yang baik : jujur, setia, bertanggungjawab, bersikap altruis, mampu mengendalikan diri, mau menerima & melaksanakan tugas/kewajiban, mau berkerjasama, menaruh perhatian terhadap masalah-masalah etika dan agama serta mendiskusikannya secara serius, dapat membedakan yang benar dan salah, dapat menganalisis perilaku orang lain secara rasional, memperhitungkan perasaan/pendapat orang lain dalam mengambil keputusan untuk melakukan suatu tindakan.

Nilai-nilai akidah, ibadah & akhlakul karimah (keyakinan & pendalaman)
Nilai-nilai agama
Profil sikap & perilaku remaja
Akidah (keyakinan)
1.      Meyakini Allah sebagai pencipta
2.      Meyakini bahwa agama sebagai pedoman hidup
3.      Meyakini bahwa Allah maha melihat terhadap semua perbuatan (gerak gerik) manusia
4.      Meyakini hari kiamat sebagai hari pembalasan amal manusia di dunia
5.      Meyakini bahwa Allah maha penyayang & pengampun
Ibadah & akhlakul karimah
1.      Melaksanakan ibadah ritual (mahdoh) seperti sholat, saum & berdoa
2.      Membaca al-qur’an dan mendalami isinya
3.      Mengendalikan diri dari sikap & perbuatan yang diharamkan Allah
4.      Bersikap hormat kepada ortu & orang lain
5.      Menjalin silaturahmi dengan saudara/orang lain
6.      Bersyukur pada saat mendapatkan nikmat
7.      Bersabar pada saat mendapatkan musibah
8.      Memelihara kebersihan diri & lingkungan
9.      Memiliki etos belajar yang tinggi

ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN

Aspek-aspek perkembangan ini meliputi, fisik, intelegensi, emosi, bahasa, sosial, kepribadian, moral & kesadaran beragama.

Perkembangan Fisik
Fisik/ tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks & mengagumkan, semua organ ini terbentuk pada periode pranatal (dalam kandungan). Kuhlen & Thompson mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi 4 aspek:
1.sistem syaraf yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan & emosi
2. otot-otot yang mempengaruhi perkembangan kekuatan & kemampuan motorik
3. kelenjar endoktrin yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan
4. struktur fisik/tubuh yang meliputi tinggi, berat & proporsi

Perkembangan Intelegensi
Binet (Sumadi, 1984) sifat dari hakikat intelegensi itu ada 3 macam :
a.      Kecerdasan untuk menetapkan & mempertahankan (memperjuangkan) tujuan tertentu, semakin cerdas seseorang akan semakin cakaplah dia membuat tujuan sendiri, memiliki inisiatif sendiri, tak menunggu perintah saja
b.      Kemampuan untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan tersebut
c.       Kemampuan untuk melakukan otokritik, kemampuan untuk belajar dari kesalahan yang telah dibuatnya

Aspek-aspek Intelegensi Menurut Gardner
Intelegensi
Kemampuan Diri
Logical mathematical
Kepekaan & kemampuan untuk mengamati pola-pola logis & numerik/bilangan serta kemampuan untuk berpikir rasional/logis
Linguistic
Kepekaan terhadap suara, ritme, maka kata-kata & keberagaman fungsi-fungsi bahasa
Musical
Kemampuan untuk menghasilkan & mengapresiasikan ritme nada (warna nada) & bentuk-bentuk ekspresi musik
Spatial
Kemampuan mempersepsikan dunia ruang-visual secara akurat dan melakukan transformasi persepsi tersebut
Bodily kinesthetic
Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan menangani objek-objek secara terampil
Interpersonal
Kemampuan untuk mengamati & merespon suasana hati, temperamen & motivasi orang lain
Intrapersonal
Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan & kelemahan serta intelegensi sendiri

Kehidupan yang semakin kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk terhadap konstelasi kehidupan emosional individu, generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional dari pada generasi sebelumnya. Mereka lebih kesepian dan pemurung, lebih beringasan & kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif & agresif.

Unsur-unsur kecerdasan Emosional
Aspek
Karakteristik Perilaku
Kesadaran diri
·         Mengenal dan merasakan emosi sendiri
·         Memahami penyebab perasaan yang timbul
·         Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan
Mengelola emosi
·         Bersikap toleran terhadap frustasi dan mampu mengelola amarah secara lebih baik
·         Lebih mampu mengungkapkan amarah dengan tepat tanpa berkelahi
·         Dapat mengendalikan perilaku agresif yang merusak diri sendiri dan orang lain
·         Memiliki perasaan yang positif tentang diri sendiri, sekolah dan keluarga
·         Memiliki kemampuan untuk mengatasi ketegangan jiwa (stres)
·         Dapat mengurangi perasaan kesepian dan cemas dalam pergaulan
Memanfaatkan emosi secara produktif
·         Memiliki rasa tanggungjawab
·         Mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan
·         Mampu mengendalikan diri dan tidak bersifat impulsif
Empati
·         Mampu menerima sudut pandang orang lain
·         Memiliki sikap empati/kepekaan terhadap perasaan orang lain
·         Mampu mendengar orang lain
Membina hubungan
·         Memiliki pemahaman & kemampuan untuk menganalisis hubungan dengan orang lain
·         Dapat menyelesaikan konflik dengan orang lain
·         Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan orang lain
·         Memiliki sikap tenggang rasa dan perhatian terhadap orang lain
·         Memperhatikan kepentingan sosial (senang menolong orang lain) dan dapat hidup selaras dengan kelompok
·         Bersikap senang berbagi rasa & bekerjasama
·         Bersikap luwes dalam bergaul dengan orang lain


Pengaruh emosi terhadap perilaku dan perubahan fisik individu

Beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu diantaranya yaitu :
·         Memperkuat semangat apabila orang merasa senang/puas atas hasil yang telah dicapai
·         Melemahkan semangat bila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini timbulnya rasa putus asa (frustasi)
·         Menghambat/mengganggu konsentrasi belajar apabila sedang mengalami ketegangag emosi & bisa juga menimbulkan sikap gugup dan gagap dalam berbicara
·         Terganggu penyesuaian sosial apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati
·         Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik terhadap sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri atau terhadap orang lain.

Jenis-jenis emosi dan dampaknya pada perubahan fisik

Jenis Emosi
Perubahan Fisik
Terpesona
Reaksi elektris pada kulit
Marah
Peredaran darah bertambah cepat
Terkejut
Denyut jantung bertambah cepat
Kecewa
Bernapas panjang
Sakit/marah
Pupil mata membesar
Takut/tegang
Air liur mengering
Takut
Berdiri bulu roma
Tegang
Terganggu pencernaan, otot-otot menegang/bergetar (tremor)


Karakteristik emosi anak dan dewasa
Emosi anak
Emosi orang dewasa
Berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba
Berlangsung lebih lama dan berakhir dengan lambat
Terlihat lebih hebat/kuat
Tidak terlihat hebat/kuat
Bersifat sementara/dangkal
Lebih mendalam dan lama
Lebih sering terjadi
Jarang terjadi
Dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya
Sulit diketahui karena lebih pandai menyembunyikannya


Pengelompokkan Emosi

Emosi dapat dikelompokkan kedalam 2 bagian : emosi sensoris & emosi kejiwaan (psikis)
(a). Emosi sensoris : yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, lapar
(b). Emosi psikis : yang memiliki alasan-alasan kejiwaan yang termasuk emosi ini :
1. perasaan intelektual, yang memiliki sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran, perasan ini diwujudkan dalam bentuk: rasa yakin dn tidak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah, rasa gembira karena mendapatkan suatu kebenaran, rasa puas karena dapat menyelesaikan persoalan-persoalan ilmiah yang harus dipecahkan
2. perasaan sosial : perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok, wujud perasaan ini : rasa solidaritas, persaudaraan (ukhuwah), simpati, kasih sayang dll
3. perasaan susila, perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk/ etiak (moral) seperti : rasa tanggungjawab, rasa bersalah bila melanggar norma, rasa tenteram dalam menaati aturan
4. perasaan keindahan (estetis) ; perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu baik bersifat kebendaan maupun kerohanian
5. perasaan ketuhanan, salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugrahi fitrah (kemampuan/perasaan) untuk mengenal Tuhannya. Dengan kata lain, manusia dikarunia insting religius (naluri beragama).

PERKEMBANGAN BAHASA

Makna Bahasa
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain, tercakup semua cara untuk berkomunikasi dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang/simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan & mimik muka

Tugas-tugas perkembangan bahasa
Dalam berbahasa, anak dituntut untuk menuntaskan / menguasai 4 tugas pokok yang saling berkaitan :
(1). Pemahaman, kemampuan memahami makna ucapan orang lain, bayi memahami bahasa orang lain bukan memahami kata-kata yang diucapkannya tapi dengan memahami kegiatan/gerakan/gesturenya (bahasa tubuhnya)
(2). Pengembangan perbendaharaan kata, perbendaharaan kata-kata anak berkembang dimulai secara lambat pada usia 2 tahun pertama, kemudian mengalami tempo yang cepat pada usia pra sekolah dan terus meningkat setelah anak masuk sekolah
(3). Penyusunan kata-kata menjadi kalimat, kemampuan menyusun kata-kata menjadi kalimat pada umumnya berkembang sebelum usia 2 tahun. Bentuk kalimat pertama : kalimat tunggal dengan disertai; “gesture’ untuk melengkapi cara bepikirnya seperti : anak menyebut “bola” sambil menunjuk bola itu dengan jarinya
(4). Ucapan, kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan hasil belajar melalui imitasi(peniruan) terhadap suara-suara yang didengar anak dari orang lain terutama ortunya. Pada bayi, antara 11-18 bulan pada umumnya mereka belum dapat berbicara/mengucapkan kata-kata secara jelas, sehingga sering tidak dimengerti maksudnya kejelasan ucapan itu baru tercapai pada usia sekitar 3 tahun. Hasil study tentang suara dan kombinasi suara menunjukkan bahwa anak mengalami kemudahan dan kesulitan dalam huruf-huruf tertentu. Huruf yang mudah diucapkan yaitu huruf hidup (vokal) : i,a,e,o,u dan huruf mati (konsonan): t, p, b, m dan n sedangkan yang sulit diucapkan adalah huruf mati tunggal : z, w, s dan g dan huruf mati rangkap (diftong): st, str, sk dan dr

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor kesehatan, inteligensi, status sosial ekonomi, gender dan hubungan keluarga :
(1). Faktor Kesehatan : kesehatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, terutama pada usia awal kehidupannya. Apabila pada usia 2 tahun pertama anak mengalami sakit terus menerus maka anak tersebut cenderung akan mengalami kelambatan/kesulitan dalam perkembangan bahasanya, oleh karena itu untuk memelihara perkembangan bahasa anak secara normal, ortu perlu memperhatikan kondisi kesehatan anak. Upaya yang ditempuh dengan cara memberikan Asi, makanan yang bergizi, memelihara kebersihan tubuh anak/secara reguler memeriksakan anak ke dokter/ke puskesmas.
(2). Intelegensi, perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat intelegensinya. Anak yang perkembangan bahasanya cepat pada umumnya memiliki intelegensi normal/di atas normal. Namun begitu, tidak semua anak yang mengalami kelambatan perkembangan-perkembangan bahasanya pada usia awal dikategorikan sebagai anak yang bodoh (lindgren dalam Hurlock, 1956). Hurlock mengemukakan hasil studi mengenai anak yang mengalami kelambatan mental yaitu bahwa sepertiga diantara mereka yang dapat berbicara secara normal dan anak yang berada pada tingkat intelektual yang paling rendah, mereka sangat miskin dalam berbahasanya.
(3). Status sosial ekonomi keluarga. Beberapa study tentang hubungan antara perkembangan bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh perbedaan kecerdasan/kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan perkembangan bahasa anaknya)
(4). Gender, pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria dan wanita, namun mulai usia 2 tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari anak pria
(5). Hubungan keluarga, hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga terutama dengan ortu yang mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak. Hubungan yang sehat antara ortu dengan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari ortunya) memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan/kelambatan dalam perkembangan bahasanya. Hubungan yang tidak sehat itu bisa berupa sikap ortu yang keras/kasar, kurang kasih sayang/kurang perhatian untuk memberikan latihan dan contoh dalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami stagnasi/kelainan seperti gagap dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk mengungkapkan pendapat dan berkata yang kasar/tidak sopan.

Adapun upaya yang bisa dilakukan ortu untuk sosialisasi pemkembangan sosial yang dicapai anak yaitu:

Sosialisasi dan perkembangan anak

Kegiatan ortu
Pencapaian perkembangan perilaku anak
1.      Memberikan makanan dan memelihara kesehatan fisik anak
2.      Melatih dan menyalurkan kebutuhan fisiologis, toilet training, menyapih dan memberikan makanan padat
3.      Mengajar dan melatih keterampilan berbahasa, persepsi, fisik, merawat diri dan keamanan diri
4.      Mengenalkan lingkungan kepada anak, keluarga, sanak keluarga, tetangga dan masyarakat sekitar
5.      Mengajarkan tentang budaya, nilai-nilai agama dan mendorong anak untuk menerimanya sebagai bagian dirinya
6.      Mengembangkan keterampilan interpersonal motif, perasaan dan perilaku dalam berhubungan dengan orang lain
7.      Membimbing, mengoreksi dan membantu anak untuk merumuskan tujuan dan merencanakan aktivitasnya
1.      Mengembangkan sikap percaya kepada orang lain (development of trust)
2.      Mampu mengendalikan dorongan biologis dan belajar untuk menyalurkannya pada tempat yang diterima masyarakat
3.      Belajar mengenal objek-objek, belajar bahasa, berjalan, mengatasi hambatan, berpakaian dan makan
4.      Mengembangkan pemahaman tentang tingkah laku sosial belajar menyesuaikan perilaku dengan tuntutan lingkungan
5.      Mengembangkan pemahaman tentang baik-buruk, merumuskan tujuan dan kriteria pilihan dan berperilaku yang baik
6.      Belajar memahami perspektif orang lain dan merespon harapan/pendapat mereka secara selektif
7.      Memiliki pemahaman untuk mengatur diri dan memahami kriteria untuk menilai penampilan perilaku sendiri


Pada usia anak, ada beberapa bentuk tingkah laku sosial anak yaitu:
1.      Pembangkangan (negativisme) : suatu bentuk tingkah laku melawan, tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin/tuntutan ortu/lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini mulai muncul pada kira-kira 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia 3 tahun. Berkembangnya tingkah laku negativisme pada usia ini dipandang sebagai hal yang wajar. Setelah usia 4 tahun biasanya tingkah ini mulai menurun. Antara usia 4-6 tahun sikap membangkan/melawan secara verbal (menggunakan kata-kata) sikap ortu terhadap tingkah laku melawan pada usia ini, seyogyanya tidak memandangnya sebagai pertanda bahwa anak itu nakal, keras kepala/sebutan yang negatif. Dalam hal ini, sebaiknya ortu mau memahami tentang proses perkembangan anak yaitu bahwa secara naluriah anak itu memiliki dorongan untuk berkembang dari posisi (dependent) ke posisi independent. Tingkah laku melawan merupakan salah satu bentuk dari proses perkembangan tersebut.
2.      Agresi (agression): perilaku menyerang balik secara fisik maupun kata-kata, agresi ini = salah satu bentuk reaksi terhadap frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan/keinginannya) yang dialaminya. Seperti memukul, mencubit, menendang, menggigit, marah-marah dan mencaci maki. Ortu yang menghukum anak yang agresif menyebabkan meningkatnya agresivitas anak. Maka sebaiknya ortu berusaha untuk mereduksi, mengurangi agresivitas anak dengan cara mengalihkan perhatian/keinginan anak, memberikan mainan/sesuatu yang diinginkannya (sepanjang tidak membahayakan keselamatannya)/upaya lain yang bisa meredam agresivitas anak tersebut.
3.      Berselisih/bertangkar (quarreling) terjadi bila seorang anak merasa tersinggung/terganggu oleh sikap dan perilaku anak lain seperti: diganggu pada saat mengerjakan sesuatu/direbut barang/mainannya
4.      Menggoda (teasing): sebagai bentuk lain dari tingkah laku agresif, menggod merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan/cemoohan) sehingga menimbulkan reaksi marah pada orang yang diserangnya.
5.      Persaingan (revatly) : keinginan untuk melebihi orang lain, dan selalu didorong (distimulusi) oleh orang lain. Sikap persaingan ini mulai terlihat pada usia 4 tahun yaitu persaingan untuk prestise dan pada usia 6 tahun, semangat bersaing ini berkembang dengan lebih baik
6.      Kerjasama (cooperation): sikap mau bekerjasama dengan kelompok. Anak yang berusia 2/3 tahun belum berkembang sikap bekerjasamanya, mereka masih kuat sikal ‘self-centered’-nya. Mulai usia 3 tahun akhir/ 4 tahun, anak sudah mulai menampakkan sikap kerjasamanya dengan anak lain. Pada usia 6/ 7 tahun, sikap kerjasama ini sudah berkembang dengan lebih baik lagi, pada usia ini anak mau bekerja kelompok dengan temannya
7.      Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior), sejenis tingkah laku untuk untuk menguasai situasi sosial, mendominasi/bersikap “bossiness”. Wujud dari tingkah laku ini, seperti : meminta, menyuruh & mengancam/memaksa orang lain untuk memenuhi kebutuhan dirinya.
8.      Mementingkan diri sendiri (selfishness) : sikap egosentris dalam memenuhi interest/keinginannya. Anak ingin selalu dipenuhi keinginannya & apabila ditolak, maka dia protes dengan menangis, menjerit/ marah-marah.
9.      Simpati (sympaty): sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati/bekerja sama dengan seiring bertambahnya usia anak mulai dapat mengurangi sikap ‘selfish’nya dan dia mulai mengembangkan sikap sosialnya dalam hal ini rasa simpati terhadap orang lain.

Lingkungan sosial yang kurang kondusif seperti perlakuan ortu yang kasar, sering memarahi, acuh tak acuh, tidak memberikan bimbingan, teladan, pengajaran/pembiasaan terhadap anak dalam menerapkan norma-norma baik agama/tata krama/budi pekerti, cenderung menampilkan perilaku seperti dibawah ini :
1.      Bersifat minder
2.      Senang mendominasi orang lain
3.      Bersifat egois/selfish
4.      Senang mengisolasi diri /menyendiri
5.      Kurang memiliki perasaan tenggang rasa
6.      Kurang mempedulikan norma dalam berperilaku

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian : baik hereditas maupun lingkungan seperti fisik, sosial, kebudayaan, spiritual.

Individu yang intelegensinya tinggi/normal, biasanya mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara wajar sedangkan yang rendah biasanya sering mengalami hambatan/kendala dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 

12 comments:

Cecep Hilman said...

Izin baca-baca Mbak ya? Terima kasih

Fachri said...

lengkp gan hehe
ijin baca..
jngn lupa mmpir di blog ane yaa

manz said...

Artikel yang bagus dan berguna untuk saya baca. Semoga bermanfaat bagi orang banyak yang membaca artikel ini. Terimakas atas informasi yang diberikan.

Kunjungan balik blog .

Battery diagnosis said...

Bagus artikelnya , semoga para pembaca tidak hanya sekedar teori tapi juga dilakukan penerapan nya juga..

Motivator indonesia said...

Hmm..bagus banget untuk pengetahuan kita dalam mendidik anak.. like this ..

human resources said...

Artikel yang cukup menarik untuk pembaca menambah pengetahuan tentang psikologi anak..

Amstrong indonesia said...

Bener2 bagus ,
dari yg tidak tahu menjadi tahu..
thx buat ilmunya..

Percetakan Jakarta said...

semoga bermanfaat bagi yang membaca..

Alat Berat said...

mantap banget bro..
sangat menarik ulasan artikelnya..

Jasa SEO said...

Sepertinya artikel ini wajib dibaca untuk para org tua..
agar tidak salah dalam mendidik anak..

naila said...

terimakasih kak informasinya,sangat lengkap sekali. namun, lebih baik lagi jika ditambahkan referensi/daftar pustakanya.
kalo boleh tau referensinya daru mana saja yah kak ??

Kiki Amalia Guyen said...

Sangat bagus dan sangat membantu :)
terimakasih :D