Buku ini merupakan buku berbahasa Arab yang berjudul
asli at-tafkir karya Taqiyuddin an-Nabhani, didalamnya dibahas tentang beberapa
point penting seputar akal yaitu definisi akal, metode berpikir, contoh-contoh
aktivitas berpikir dan berpikir memahami teks-teks.
Definisi Akal
(Urgensi definisi akal, proses berpikir, dan metode berpikir)
Manusia adalah makhluk yang paling utama, hingga
dikatakan bahwa manusia lebih utama daripada malaikat. Keutamaan manusia
terletak pada akalnya, akal inilah yang telah mengangkat kedudukan manusia dan
sekaligus menjadikannya makhluk yang paling utama. Proses berpikirlah yang
menjadikan akal manusia memiliki nilai dan menghasilkan berbagai produk akal
yang mampu membuat kehidupan dan manusia menjadi baik. Bahkan mampu menciptakan
kebaikan bagi seluruh alam semesta beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya,
termasuk benda-benda mati, tumbuhan dan hewan.
Berbagai macam ilmu, seni, sastra, filsafat, fikih
(hukum), ilmu bahasa, dan pengetahuan adalah produk akal yang konsekuensinya
juga merupakan produk proses berpikir. Oleh karena itu, demi kebaikan manusia,
kehidupan dan alam semesta, harus diketahui fakta tentang akal disamping harus
diketahui fakta mengenai proses berpikir dan metode berpikir.
Umat manusia dalam kurun waktu yang sangat panjang
ternyata lebih menaruh perhatian pada buah akal dan buah proses berpikir
daripada memberikan perhatian pada fakta mengenai akal dan fakta tentang proses
berpikir itu sendiri. Pernah ada orang-orang yang berusaha untuk memahami fakta
akal baik intelektual kaum Muslim maupun non-Muslim pada masa lalu ataupun masa
sekarang. Tetapi, semuanya gagal dalam memahami fakta mengenai akal tersebut.
Ada juga orang yang berusaha menyusun metode berpikir dan memang berhasil dalam
beberapa aspek dari buah metode berpikir tersebut dengan adanya sejumlah
prestasi ilmiah. Tapi, mereka telah tersesat dalam memahami fakta tentang
proses berpikirnya. Mereka juga menyesatkan para pengikutnya yang merasa kagum
terhadap keberhasilan ilmiah tersebut.
Sebelumnya, sejak masa Yunani dan setelahnya, umat
manusia telah terdorong untuk mengetahui fakta mengenai proses berpikir.
Hasilnya, mereka sampai pada apa yang disebut dengan logika (‘ilmu mantiq) dan
berhasil meraih sebagian pemikiran. Tapi mereka telah merusak hakikat
pengetahuan itu sendiri. Jadi, ilmu logika malah menjadi sesuatu yang
destruktif bagi pengetahuan bukan menjadi –seperti yang diharapkan dari logika-
alat untuk mencapai ilmu pengetahuan atau menjadi standar kebenarannya. Mereka
yang terdorong memahami proses berpikir juga telah sampai pada apa yang disebut
dengan filsafat yaitu cinta kebijaksanaan dan studi secara mendalam tentang apa
yang ada di balik eksistensi atau di balik materi (gaib, supernatural). Mereka
memang berhasil menciptakan pengetahuan dan kesimpulan yang menghasilkan
kepuasan intelektual. Tetapi pengetahuan tersebut jauh dari fakta dan
kebenaran. Akibatnya, mereka menjauhkan manusia dari kebenaran dan fakta hingga
menyesatkan banyak manusia serta menyimpangkan proses berpikir dari jalannya
yang lurus.
Kajian tentang proses berpikir dan metode berpikir
meskipun telah menghasilkan berbagai pengetahuan, menciptakan bidang pengkajian
dan menghasilkan sejumlah manfaat bagi manusia, upaya-upaya itu tidak
difokuskan pada fakta mengenai proses berpikir dan tidak berlangsung di atas
jalan yang benar. Karena itu, upaya tersebut tidak dapat dianggap kajian
mengenai fakta proses berpikir, tapi hanya kajian tentang produk proses
berpikir. Upaya tersebut bukan kajian tentang metode berpikir yang lurus, tapi
hanya sekedar kajian tentang salah satu teknik berpikir dalam metode berpikir
yang diperoleh secara kebetulan akibat pengkajian berbagai produk pemikiran dan
buah akal serta tidak diperoleh melalui jalan penelaahan terhadap fakta proses
berpikir itu sendiri. Maka, dapat dikatakan bahwa kajian tentang metode
berpikir yang lurus selama ini hanya berputar-putar pada hasil proses berpikir,
tidak difokuskan pada fakta proses berpikir itu sendiri.
Penyebab kegagalan yang ada hingga kini dalam memahami
fakta mengenai proses berpikir dan juga fakta metode berpikir dikarenakan para
pengkaji telah lebih dulu mengkaji proses berpikir sebelum mengkaji akal itu
sendiri. Padahal, fakta tentang proses berpikir itu tidak akan dapat dipahami kecuali
setelah diketahui terlebih dulu fakta mengenai akal secara meyakinkan dan
pasti. Ini karena proses berpikir adalah produk dari akal sementara berbagai
ilmu pengetahuan, seni dan seluruh aspek ilmu budaya (tsaqofah) merupakan buah
dari proses berpikir. Wajar saja jika pertama kali harus diketahui adalah fakta
tentang akal secara meyakinkan dan pasti. Setelah itu, bisa diketahui fakta
mengenai proses berpikir dan selanjutnya metode berpikir yang lurus. Setelah
itu atas dasar petunjuknya, suatu pengetahuan akan bisa dinilai, apakah
termasuk sains ataukah bukan. Maka akan dapat ditentukan bahwa kimia adalah
sains, sementara psikologi dan sosiologi bukanlah sains. Akan dapat ditentukan
pula apakah suatu pengetahuan termasuk kebudayaan atau bukan. Artinya, akan
dapat ditentukan perundang-undangan adalah termasuk tsaqofah dan tashwir (seni
menggambar) bukanlah termasuk tsaqofah. Walhasil, pokok masalahnya secara
keseluruhan bermuara pada pengetahuan tentang fakta akal itu sendiri secara
meyakinkan dan pasti. Setelah itu dan atas petunjuk pengetahuan tersebut,
barulah bisa dibahas fakta mengenai proses berpikir dan metode berpikir.
Berdasarkan petunjuk metode berpikir tersebut baru akan bisa dihasilkan secara
benar berbagai teknik berpikir.
Itulah yang menjadi pokok permasalahannya, pengetahuan
tentang sains dan kebudayaan haruslah merupakan produk dari pengetahuan tentang
fakta proses berpikir, metode berpikir berserta berbagai teknik berpikirnya.
Fakta proses berpikir itu sendiri haruslah merupakan buah dari pengetahuan
tentang fakta mengenai akal. Atas dasar itu, harus diketahui fakta akal secara
meyakinkan dan pasti, baru kemudian fakta tentang proses berpikir.
Definisi Akal
Menurut Pemikir Komunis
Orang-orang yang mendefinisikan akal atau berusaha
mengetahui fakta akal baik pada masa lalu seperti para filosof Yunani, para
pemikir Muslim dan ilmuan Barat, maupun pada masa sekarang ini cukup banyak. Upaya
yang dilakukan para pemikir komunis patut dipertimbangkan karena upaya mereka
adalah upaya yang seriius tetapi definisi tersebut rusak karena sikap para
pemikir komunis yang salah untuk terus mengingkari eksistensi pencipta alam
ini. Jika tidak ada pengingkaran terhadap eksistensi sang Pencipta, niscaya
mereka akan mencapai fakta mengenail akal secara meyakinkan dan pasti tentang
fakta akal.
Para pemikir komunis memulai pembahasan mereka tentang
fakta dan pemikiran dengan menyatakan “Apakah pemikiran itu ada sebelum adanya
fakta? Ataukah fakta ada sebelum adanya pemikiran, sehingga pemikiran adalah
buah dari fakta?” mereka berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagai menyatakan
bahwa pemikiran itu ada sebelum adanya fakta sebagian lagi menyatakan fakta itu
ada sebelum adanya pemikiran. Tapi pendapat final mereka adalah bahwa fakta ada
sebelum pemikiran. Mereka menyatakan bahwa pemikiran adalah refleksi
(pemantulan) fakta terhadap otak, artinya pengetahuan mereka tentang fakta
pemikiran bahwa pemikiran terbentuk dari fakta, otak, dan proses refleksi fakta
terhadap otak. Menurut mereka, pemikiran adalah hasil dari refleksi fakta
terhadap otak. Pendapat ini menunjukkan adanya kajian yang benar, usaha serius
dan mendekati kebenaran jika mereka tidak terus mengingkari eksistensi Pencipta
alam dan tidak terus menyatakan bahwa alam ini bersifat tidak berawal dan tidak
berakhir (azali), niscaya kesalahan dalam memahami fakta akal tidak akan
terjadi. Memang benar, bahwa pemikiran tidak akan terbentuk tanpa adanya fakta.
Setiap pengetahuan yang tidak akan ada faktanya hanyalah khayalan dan imajinasi
semata. Artinya, fakta adalah asas pemikiran, sedangkan pemikiran itu sendiri
hanya merupakan pengungkapan fakta atau penilaian terhadap fakta. Maka, fakta
adalah asas pemikiran dan asas proses berpikir. Tanpa adanya fakta, tidak akan
mungkin ada pemikiran dan proses berpikir.
Kemudian, penilaian terhadap fakta, bahkan setiap hal
yang ada pada diri manusia ataupun yang dihasilkan oleh manusia sesungguhnya
terkait erat dengan otak. Otak merupakan pusat utama dan mendasar yang ada para
diri manusia karenanya, sebuah pemikiran tidak akan pernah terwujud kecuali
setelah adanya otak. Otak sendiri adalah fakta. Dengan demikian, pemikiran,
sebagaimana keberadaan fakta yang juga menjadi syarat mendasar bagi terwujudnya
pemikiran. Walhasil, utnuk mewujudkan adanya akal yaitu proses berpikir atau adanya
pemikiran haruslah adanya fakta dan otak.
Para komunis telah berhasil menyimpulkan bahwa
keberadaan akal mesti bergantung pada adanya fakta dan otak. Kebedaraan
keduanya secara bersamaan merupakan syarat utama dan mendasar bagi eksistensi
akal. Usaha mereka bisa dipandang sebagai usaha yang serius dan benar.
Sayangnya, ketika berusaha mengaitkan fakta dengan otak untuk menghasilkan
pemikiran atau untuk mewujudkan proses berpikir, mereka tergelincir dalam
kekeliruan. Mereka menyimpulkan bahwa keterkaitan keduanya adalah proses
refleksi fakta tersebut terhadap otak. Jadinya mereka keliru di dalam memahami
fakta akal sehingga mereka juga keliru di dalam pendefinisian akal. Penyebab
kekeliruan mereka adalah karena terus mengingkari eksistensi Pencipta yang
telah menciptakan alam semesta ini dari ketiadaan. Jika saja mereka menyatakan
bahwa pengetahuan mendahului pemikiran, mereka pasti akan mendapatkan kebenaran
yang nyata. Dalam hal ini, pertanyaannya adalah, dari mana datangnya pemikiran
yang muncul sebelum adanya fakta? Jawabannya pasti datang dari selain fakta.
Pertanyaan selanjutnya, dari mana asalnya pemikiran pada manusia pertama?
jawabannya, pemikiran itu mesti datang dari selain manusia pertama itu dan
selain fakta. Artinya, manusia pertama dan seluruh fakta yang ada telah
diwujudkan oleh Yang memberikan pengetahuan kepada manusia pertama itu. Ini
berbeda dengan pengetahuan kaum komunis yang mereka anggap pasti bahwa alam dan
fakta itu azali (eternal). Oleh karena itu, mereka mengatakan bahwa refleksi
fakta terhadap otak adalah akal dan bahwa proses refleksilah yang membentuk
pemikiran dan sekaligus proses berpikir.
Untuk menghindari keharusan adanya pengetahuan,
kalangan komunis berusaha membuat bermacam-macam fantasi dan asumsi. Mereka
menyatakan bahwa manusia pertama telah melakukan percobaan (eksperimen) atas
berbagai fakta hingga menghasilkan pengetahuan. Percobaan-percobaan ini menjadi
sejumlah pengetahuan yang akan membantu dirinya untuk mengadakan percobaan lain
atas sejumplah fakta yang lain. Demikian seterusnya, mereka tetap berpendapat bahwa
fakta dan juga refleksi otak terhadap fakta adalah akal atau pemikiran, yang
akan mewujudkan adanya proses berpikir. Mereka tidak bisa melihat perbedaan
antara penginderaan dan refleksi. Mereka juga tidak bisa melihat bahwa
aktivitas berpikir tidak dihasilkan melalui proses refleksi fakta terhadap otak
dan tidak juga dari terbentuknya kesan fakta pada otak, melainkan dihasilkan
melalui proses penginderaan/pencerapan. Pusat penginderaan tersebut adalah
otak. Andaikata tidak ada penginderaan fakta, tidak akan ada pemikiran apapun,
dan juga tidak akan ada proses berpikir apapun. Dengan demikian, kegagalan
mereka membedakan penginderaan dengan refleksi telah semakin menambah kesalahan
mereka dan memalingkan proses berpikir dari jalan yang telah tempuh sebelumnya.
Akhirnya, terbentuklah definisi mereka tentang fakta akal dan jatuhlah mereka
dalam kekeliruan pendefinisiannya.
Tapi, yang menjadi asas kesalahan mereka bukan tidak
adanya pembedaan antara penginderaan dan refleksi. Jika hanya karena faktor
tersebut, mereka pasti akan menemukan kesimpulan bahwa masalahnya adalah
penginderaan, bukan refleksi. Faktor mendasar dan asasi kesalahan dan
penyimpangan mereka adalah pengingkaran mereka terhadap eksistensi Pencipta
yang telah menciptakan alam semesta ini. Akibatnya, mereka tidak memahami bahwa
keberadaan informasi terdahulu tentang fakta merupakan syarat yang mesti ada
bagi adanya sebuah pemikiran atau proses berpikir. Informasi terdahulu
merupakan syarat yang pasti untuk membentuk akal, atau agar pemikiran dan
proses berpikir itu ada. Seandainya tidak demikian, niscaya keledai pun
mempunyai akal, karena keledai memiliki otak dan merefleksikan fakta terhadap
otak atau mengindera fakta. Padahal, akal merupakan karakteristik khusus yang
hanya dimiliki manusia, hingga ada ungkapan lama bahwa manusia adalah hewan
yang berpikir artinya, manusia adalah hewan yang dapat berpikir sebab proses
berpikir atau akal hanya khusus dimiliki manusia sedangkan hewan atau yang
lainnya tidak memiliki akal atau proses berpikir.
Definisi Akal Yang Shahih
Para pemikir komunis telah keliru mendefinisikan akal
dan menyimpang dari jalan yang mereka tempuh untuk mencapai pengetahuan
tersebut secara meyakinkan dan pasti tapi mereka telah membuka jalan bagi
generasi sesudahnya yang menempuh jalan untuk mencapai pengetahuan tentang
fakta akal secara meyakinkan dan pasti.
Kaum muslim mempunyai dalil yang menunjukkan bahwa
informasi terdahulu tentang sesuatu merupakan perkara yang harus ada agar
sesuatu tersebut dapat dipahami. Meskipun ini benar memang benar, perlu
dipertimbangkan adalah bahwa definisi akal merupakan deskripsi mengenai suatu
fakta dan yang dikehendaki dari definisi akal adalah agar seluruh manusia
terikat dengan definisi tersebut. Maka dari itu, definisi akal harus dibangun
atas dasar realitas yang ada yang dapat di indera, karena yang dikehendaki
adalah agar seluruh manusia –bukan kaum muslim saja- terikat dengan definisi
tersebut.
Di dalam al-qur’an, Allah SWT berfirman : “Allah telah
mengajarkan (memberi informasi) kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
kemudian Allah mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman :
“Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang
yang benar!” Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha tahu
dan Maha bijaksana.” Allah berfirman, ”hai Adam, beritahukanlah kepada mereka
nama-nama benda-benda itu!.” Maka setelah Adam memberitahukan kepada mereka
nama-nama benda-benda itu, Allah berfirman, Bukankah sudah Aku katakan kepadamu
bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui apa
saja yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan? [TQS. Al-Baqarah [2]:
31-33]
Ayat ini menunjukkan bahwa informasi terdahulu mesti
ada untuk sampai pada pengetahuan apa pun. Nabi Adam as telah diberi informasi
oleh Allah SWT tentang nama benda-benda atau apa yang ditunjukkan oleh
nama-nama tersebut. Oleh karena itu, ketika benda-benda tersebut disodorkan ke
hadapan Nabi Adam, dia langsung mengetahuinya. Manusia pertama, yaitu Adam,
sesungguhnya telah diberi sejumlah informasi oleh Allah hingga ia bisa
mengetahui nama-nama benda-benda. Seandainya saja berbagai informasi tersebut
tidak ada, Adam tentu tidak akan mengetahuinya.
Ayat diatas menjelaskan bahwa proses berpikir
mengharuskan adanya informasi terdahulu karena proses berpikir tidak akan bisa
terwujud kecuali dengan adanya informasi terdahulu tentang fakta yang
disodorkan ke dalam otak. Hanya saja, karena yang dikehendaki adalah agar
seluruh manusia –bukan hanya kaum muslim saja- terikat dengan definisi akal,
maka harus diketengahkan realitas yang ada yang dapat diindera yakni bahwa
informasi terdahulu tentang fakta adalah sesuatu yang harus ada untuk mewujudkan
pemikiran atau agar akal bisa terbentuk atau wujud. Ini disebabkan keberadaan
akal sangat bisa terbentuk atau terwujud. Ini disebabkan keberadaan akal sangat
bergantung pada adanya informasi terdahulu pada otak, meskipun fakta merupakan
syarat penting bagi terwujudnya aktivitas akal, pemikiran atau proses berpikir.
Dengan adanya informasi terdahulu, aktivitas berpikir atau eksistensi akal
dapat diwujudkan.
Informasi terdahulu tentang fakta atau tentang apa
saja yang berkaitan dengan fakta, merupakan perkara yang harus ada dalam
mewujudkan akal atau kesadaran. Tanpa adanya informasi terdahulu, mustahil akal
atau kesadaran dapat diwujudkan. Dengan begitu, akan diketahui makna akal, lalu
definisi akal secara sahih dalam bentuk yang meyakinkan dan pasti.
Yang terjadi dalam proses berpikir atau aktivitas akal
adalah penginderaan/pencerapan, bukan refleksi dapat dijelaskan bahwa
sebenarnya tidak ada proses refleksi antara materi (fakta yang terindera) dan
otak. Jadi otak tidak direfleksikan pada materi atau sebaliknya materi juga
tidak direfleksikan pada otak, sebab refleksi (proses pemantulan) yang bisa
merefleksikan sesuatu seperti halnya cermin dan cahaya. Jadi cermin dan cahaya
membutuhkan kapasitas refleksi untuk memantulkan materi. Hal ini tidak ada pada
otak ataupun materi, karena itu tidak ada sama sekali proses refleksi antara
materi dan otak karena materi tidak direfleksikan ke dalam otak atau tidak
dipindahkan kedalam otak. Yang berpindah adalah penginderaan (atau pencerapan)
materi ke dalam otak melalui pancara indera. Artinya, panca inderalah –yang
mana saja- yang mencerap materi. Lalu penginderaan tersebut berpindah ke dalam
otak sehingga otak mampu mengeluarkan penilaian(hukm, judgement) atas materi.
Pemindahan penginderaan materi ke dalam otak bukanlah
proses refleksi materi terhadap otak atau sebaliknya refleksi otak terhadap
materi. Yang terjadi hanyalah penginderaan materi oleh panca indera. Tidak ada
perbedaan antara mata dan indera lainnya. Maka proses penginderaan materi dapat
terjadi melalui perabaan, penciuman, pengecapan, pendengaran, atau penglihatan.
Dengan demikian, yang terjadi pada berbagai objek bukanlah refleksi terhadap
otak, tapi penginderaan terhadap objek tersebut. Artinya, manusia mengindera
benda-benda melalui panca inderanya, dan bukan benda-benda tersebut yang
direfleksikan ke dalam otak manusia.
Kenyataan di atas sangat jelas, sejelas cahaya
matahari yang menimpa objek-objek material, yakni bahwa pencerapan atau
penginderaanlah yang sebenarnya terjadi. Sementara itu, dalam kaitannya dengan
objek-objek non-material seperti objek-objek yang bersifat maknawi atau
spiritual (ruhani), maka sebenarnya terjadi juga penginderaan (pencerapan)
terhadap objek-objek tersebut hingga dihasilkan aktivitas berpikir terhadapnya.
Berkenaan dengan suatu masyarakat yang mundur, harus terjadi penginderaan
hingga dapat diputuskan bahwa suatu masyarakat mengalami kemunduran. Realitas
kemunduran jelas bersifat material. Berkenaan dengan hal-hal yang menodai
kehormatan, harus ada penginderaan mengenai penodaan yang terjadi atau
penginderaan bahwa suatu benda atau tindakan telah menodai kehormatan. Dengan
begitu, bisa diputuskan bahwa telah terjadi penodaan atau ada sesuatu yang
tajam yang telah melukai atau menodai kehormatan. Ini adalah perkara yang
bersifat maknawi. Demikian pula mengenai hal-hal yang bisa menimbulkan kemurkaan
Allah, harus ada penginderaan terhadap (sebab) kemurkaan Allah yang terjadi,
atau penginderaan terhadap tindakan atau sesuatu yang bisa menimbulkan
kemurkaan Rabbul Izzati (Allah), yakni yang dapat menyulut api kebencian dan
bara kemarahan bagi Adz-Dzat Al-‘Illiyah (Allah). Ini adalah masalah yang
bersifat spiritual.
Tanpa adanya proses penginderaan dalam semua hal di
atas, jelas tidak terwujud aktivitas akal. Proses penginderaan merupakan hal
yang mesti ada agar terjadi aktivitas akal, baik untuk objek-objek material
maupun non material. Hanya saja, proses pencerapan terhadap objek-objek yang
bersifat material akan terjadi secara alamiah, meskipun akan dapat berlangsung
secara kuat atau lemah sesuai pemahaman seseorang terhadap karakter objek yang
dicerapnya. Oleh karena itu, para pemikir menyatakan bahwa pencerapan yang
muncul dari kesadaran atau pemikiran adalah jenis pencerapan yang paling kuat.
Sebaliknya, proses pencerapan terhadap objek non material sesungguhnya tidak
akan terjadi kecuali dengan adanya pemahaman terhadapnya atau dengan jalan
taklid.
Bagaimanapun keadaannya, fakta bahwa yang terjadi
adalah proses pencerapan, bukan refleksi sesungguhnya merupakan hal yang nyaris
merupakan aksioma (sesuatu yang tidak perlu dibuktikan lagi). Meskipun demikian,
proses pencerapan terhadap objek yang bersifat material akan tampak lebih jelas
dari pada objek yang bersifat maknawi. Masalah tersebut sebetulnya tidaklah
mendasar karena bisa ditangkap oleh indera setiap orang dan tidak ada perbedaan
pemahaman di antara mereka. Yang berbeda adalah pengungkapannya, yang terkadang
berbeda dengan fakta yang sebenarnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh para
pemikir komunis dengan istilah refleksi dan terkadang sesuai dengan fakta yang
sesungguhnya, sebagaimana yang telah di ungkapkan dengan istilah pencerapan
atau penginderaan. Yang menjadi sumber penyimpangan justru masalah informasi
terdahulu tentang fakta. Inilah yang menjadikan penyimpangan kaum komunis
semakin fatal. Ini pula yang menjadi point utama dalam pokok bahasan tentang
akal atau merupakan hal dasar dalam aktivitas berpikir.
Kesimpulan dari pokok bahasan tentang informasi
terdahulu adalah bahwa pencerapan saja tidak akan mewujudkan permikiran. Yang
terjadi hanyalah pencerapan saja atau penginderaan terhadap fakta. Penginderaan
yang diulang-ulang sampai jutaan kali sekalipun, meski dilakukan melalui
berbagai jenis penginderaan tetap akan merupakan penginderaan saja dan sama
sekali tidak akan menghasilkan pemikiran. Agar terwujud pemikiran, proses
penginderaan harus disertai dengan adanya informasi terdahulu pada diri
manusia, yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta yang diindera. Dengan
demikian, baru akan terwujud pemikiran. Sebagai contoh, kita bisa menghadirkan
seseorang yang ada sekarang, siapapun orangnya. Kita lantas memberikan
kepadanya sebuah buku berbahasa Assiriya, sementara ia tidak mempunyai
informasi apapun yang berkaitan dengan bahsa tersebut. Kita kemudian
membiarkannya mengindera buku tersebut dengan cara melihat ataupun meraba. Kita
memberinya pula kesempatan untuk mengindera buku tersebut sampai sejuta kali.
Maka, ia pasti tetap tidak akan memahami satu kata pun dari buku tersebut. Baru
setelah kita memberikan informasi kepadanya tentang bahasa tersebut atau
hal-hal yang berkaitan dengan bahasa tersebut, ia akan mampu memikirkan dan
memahaminya.
Tidak benar jika dikatakan bahwa realitas tersebut
hanya berkaitan dengan bahasa yang merupakan buatan manusia, sehingga
membutuhkan informasi tentang bahasa tersebut. Ini karena yang menjadi pokok
bahasan adalah aktivitas berpikir, sedangkan aktivitas berpikir adalah
aktivitas akal, apakah berupa aktivitas menilai sesuatu, memahami makna (kata)
atau memahami kebenaran. Artinya, aktivitas berpikir adalah sama untuk segala
hal. Berpikir tentang suatu masalah sama saja dengan berpikir tentang suatu
opini. Memahami makna suatu kata sama dengan memahami makna suatu fakta.
Masing-masing membutuhkan aktivitas berpikir, karena pada kenyataannya
aktivitas tersebut sama dalam semua objek dan semua fakta.
Agar tidak menimbulkan perdebatan mengenai bahasa dan
fakta, marilah kita mengambil contoh sebuah fakta secara langsung, kita
mengambil seorang anak kecil yang sudah mempunyai kemampuan mengindera tetapi
tidak memiki informasi. Kita letakkan di hadapannya sepotong emas, tembaga dan
batu. Lalu kita membiarkannya mengindera dan mencerap benda-benda tersebut.
Maka dia tidak mungkin bisa memahaminya, meskipun penginderaannya dilakukan
berulang-ulang dengan berbagai macam panca inderanya. Akan tetapi jika ia diberi
informasi terdahulu tentang ketiga benda tersebut kemudian dia menginderanya,
maka dia akan menggunakan informasi itu hingga ia mampu memahami hakikat 3
benda tersebut. Andaikata anak tersebut telah dewasa hingga berusia 20 tahun,
sementara dia tidak mempunyai informasi tentang apapun, maka keadaannya akan
tetap seperti semula, yaitu hanya bisa mengindera benda-benda tanpa bisa
memahaminya, meskipun otaknya telah mengalami perkembangan. Ini disebabkan,
yang menjadikan dirinya bisa memahaminya meskipun otaknya telah mengalami
perkembangan. Ini disebabkan, yang menjadikan dirinya bisa memahami sesuatu
bukanlah otak, tapi informasi-informasi terdahulu disertai dengan fakta-fakta
yang diinderanya.
Dengan demikian, informasi terdahulu tentang suatu
fakta atau yang berkaitan dengan fakta, adalah syarat mendasar dan utama demi
terwujudnya aktivitas berpikir atau demi terbentuknya akal. Semua itu adalah
penjelasan aspek kesadaran rasional yaitu kesadaran yang muncul dari akal.
Adapun aspek kesadaran emosional yaitu kesadaran yang muncul dari perasaan,
maka ia adalah kesadaran yang muncul dari naluri-naluri dan kebutuhan fisik.
Kesadaran emosional ini, sebagaimana terdapat pada hewan, juga terdapat pada
manusia. jika kita memberikan apel dan batu secara berulang-ulang, dia pasti
akan tahu bahwa apel bisa dimakan sedangkan batu tidak bisa dimakan. Keledai
pun akan mengetahui bahwa gandum (barley) bisa dimakan sedangkan tanah tidak.
Namun demikian, kemampuan membedakan ini bukanlah pemikiran atau kesadaran,
melainkan berasal dari naluri dan kebutuhan fisik. Hal ini terdapat pada hewan
sebagaimana terdapat juga pada manusia. Dengan demikian, tidak mungkin terwujud
pemikiran, kecuali jika terdapat informasi-informasi terdahulu disertai dengan
proses transfer penginderaan fakta
melalui panca indera ke dalam otak.
Apa yang menjadi ketidakjelasan bagi banyak orang
adalah bahwa informasi terdahulu ini dianggap bisa dihasilkan melalui proses
percobaan (eksperimen) yang dilakukan sendiri oleh seseorang atau bisa diterima
dari pihak lain. Menurut mereka percobaan-percobaan bisa mewujudkan informasi.
Percobaan yang pertama inilah yang akan mewujudkan aktivitas berpikir.
Ketidakjelasan ini bisa dihilangkan hanya dengan memperhatikan dua hal, yaitu :
(1) perbedaan otak manusia dengan otak hewan dilihat dari kemampuan
masing-masing dalam mengaitkan fakta dengan informasi, dan (2) perbedaan antara
aspek yang berkaitan dengan naluri dan kebutuhan fisik, dengan aspek yang
berkaitan dengan penilaian atas berbagai benda, benda apakah itu.
Perbedaan otak manusia dengan otak hewan, ialah bahwa
pada otak hewan tidak terdapat kemampuan mengaitkan informasi. Yang ada
hanyalah kemampuan mengingat kembali penginderaan terutama ketika penginderaan
dilakukan secara berulang-ulang. Kemampuan mengingat kembali ini, yang
dilakukan hewan secara alamiah, khusus terdapat pada hal-hal yang berkaitan
dengan naluri dan kebutuhan fisik. Tidak berkaitan dengan perkara-perkara diluar dua hal ini. Jika Anda
memukul lonceng dan memberi makan anjing ketika lonceng dipukul, maka-bila ini
dilakukan berulang-ulang- anjing akan bisa mengerti bahwa jika lonceng
dibunyikan, berarti makanan akan segera datang, sehingga mengalir air liurnya.
Begitu juga dengan sapi yang sedang digembalakan akan menjauhi rerumputan yang
beracun atau yang membahayakannya.
Contoh diatas tentang pembedaan yang bersifat naluriah
sedangkan yang sering disaksikan orang, bahwa sebagian hewan yang telah dilatih
mampu melakukan gerakan-gerakan/aktivitas-aktivitas tertentu yang tidak
berkaitan dengan nalurinya, maka sebenarnya hewan itu melakukannya semata
didasarkan pda proses mencontoh/meniru. Tidak didasarkan pada
pemikiran/kesadaran. Ini karena pada otak hewan tidak terdapat kemampuan untuk
mengaitkan informasi yang ada pada hewan hanyalah kemampuan mengingatkan
kembali penginderaan dan kemampuan membedakan yang semata-mata muncul dari
naluri. Setiap hal yang berkaitan dengan nalurinya akan diinderanya dan segala
hal yang telah diinderanya akan mampu diingatnya kembali, terutama jika
penginderaan itu dilakukan secara berulang-ulang. Artinya, apa saja yang
berkaitan dengan nalurinya, akan dilakukan oleh hewan secara alamiah, baik
melalui proses penginderaan/melalui proses mengingat kembali penginderaan
tersebut.
Ini berbeda dengan otak manusia, pada otak manusia
terdapat kemampuan mengaitkan informasi (dengan fakta) bukan hanya kemampuan
mengingat kembali penginderaan. Informasi terdahulu harus ada dalam aktivitas
pengaitan dan keunggulan manusia atas hewan terletak pada kemampuan mengaitkan
informasi ini.
Jalan lurus yang bisa menyampaikan pada pengetahuan
tentang makna akal secara meyakinkan pada pengetahuan tentang makna akal secara
meyakinkan dan pasti adalah harus terwujudnya 4 komponen akal agar aktivitas
akal bisa terwujud. Harus ada fakta, otak manusia yang normal, panca indera dan
informasi terdahulu.
Berdasarkan penjelasan diatas, definisi akal/
pemikiran/kesadaran adalah pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca
indera kedalam otak yang disertai adanya informasi-informasi terdahulu yang
akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut.
Inilah satu-satunya definisi yang benar, yang mengikat
seluruh manusia disetiap zaman karena ia merupakan satu-satunya definisi yang
dapat mendeskripsikan fakta akal secara benar dan satu-satunya definisi yang
tepat untuk fakta mengenai akal.
BAB II METODE
BERPIKIR
Jika telah memahami makna dan definisi akal secara
yakin dan pati, maka selanjutnya harus mengetahui metode yang digunakan akal
dalam mencapai berbagai pemikiran.
Metode berpikir adalah cara yang menjadi dasar bagi
berlangsungnya aktivitas akal/aktivitas berpikir sesuai dengan karakter dan
faktanya. Metode berpikir tidak akan mengalami perubahan, harus konstan dan
harus dijadikan asas berpikir, bagaimanapun variatifnya cara-cara berpikir.
Metode Rasional
Metode rasional adalah metode tertentu dalam
pengkajian yang ditempuh untuk mengetahui realitas sesuatu yang dikaji dengan
jalan memindahkan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera kedalam otak
disertai adanya informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta
tersebut. Selanjutnya, otak akan memberikan penilaian terhadap fakta tersebut.
Selanjutnya, otak akan memberikan penilaian terhadap fakta tersebut. Penilaian
ini adalah pemikiran/kesadaran rasional.
Pemikiran yang dicapai melalui metode rasional jika
berkaitan dengan keberadaan sesuatu, seperti masalah-masalah akidah (pemikiran
yang bersifat pasti). Jika berkaitan dengan realitas dari sesuatu/sifat
sesuatu, seperti dugaan yaitu bahwa benda tertentu hukumnya diduga kuat adalah
begini/perkara tertentu hukumnya diduga kuat yaitu begitu. Pemikiran-pemikiran
ini adalah benar yang mengandung salah. Tapi pemikiran tersebut dipandang benar
sampai bisa dibuktikan kesalahannya.
Metode ilmiah
Barat-Eropa dan Amerika dan di ikuti Rusia, telah
berhasil melahirkan revolusi industri di Eropa dan sukses dalam ilmu-ilmu
empiris/eksperimental dengan keberhasilan yang tiada bandingannya. Hegemoni
Barat telah meluas sejak abad ke 19 hingga sekarang, pengaruh mereka meliputi
seluruh dunia. Cara dalam penelitian (riset) ilmu-ilmu empiris ini mereka
namakan metode ilmiah dalam berpikir. Para pemikira komunis pun lalu mengadopsi
metode tersebut dan menerapkannya pada selain ilmu-ilmu eksperimental,
sebagaimana mereka menerapkannya pada ilmu-ilmu eksperimental. Para pemikir
Eropa tetap menggunakan metode tersebut untuk ilmu-ilmu eksperimental dan ini
diikuti pula oleh para pemikir Amerika. Seluruh penduduk bumi pun lalu
mengikuti langkah mereka, sebagai akibat pengaruh dan hegemoni Barat dan Uni
soviet. Akibatnya, metode ilmiah telah mendominasi manusia secara umum. Semua
ini mengakibatkan munculnya sakralisasi terhadap pemikiran-pemikiran ilmiah dan
metode ilmiah di seluruh Dunia Islam. oleh karena itu, harus ada penjelasan
tentang metode ilmiah ini.
Metode ilmiah adalah metode tertentu dalam pengkajian
yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan tentang realitas dari sesuatu
melalui jalan percobaan objek-objek material yang dapat diindera. Metode ilmiah
tidak dapat digunakan dalam pengkajian pemikiran-pemikiran.
Yang salah adalah menjadikan metode ilmiah sebagai
asas dalam berpikir, karena menjadikannya asas berpikir tidaklah sesuai
kenyataan. Ini disebabkan metode ilmiah bukanlah suatu basis yang di atasnya
dibangun cabang di atas suatu basis.
Metode ilmiah merupakan salah satu cara berpikir yang konstan. Metode
ilmiah tidak bisa diterapkan dalam semua objek, tetapi hanya bisa diterapkan
pada satu objek saja yaitu objek material yang dapat diindera, untuk mengetahui
realitas materi yang diteliti melalui jalan percobaan.
--> to be continue... selanjutnya akan dibahas metode berpikir, contoh-contoh aktivitas berpikir,
berpikir memahami teks-teks.
1 comments:
Terima kasih telah berbagi...
maju terus blognya...
wassalam...
Post a Comment