Tuesday, January 18, 2011

Hakekat Berpikir


Buku ini merupakan buku berbahasa Arab yang berjudul asli at-tafkir karya Taqiyuddin an-Nabhani, didalamnya dibahas tentang beberapa point penting seputar akal yaitu definisi akal, metode berpikir, contoh-contoh aktivitas berpikir dan berpikir memahami teks-teks.

Definisi Akal (Urgensi definisi akal, proses berpikir, dan metode berpikir)

Manusia adalah makhluk yang paling utama, hingga dikatakan bahwa manusia lebih utama daripada malaikat. Keutamaan manusia terletak pada akalnya, akal inilah yang telah mengangkat kedudukan manusia dan sekaligus menjadikannya makhluk yang paling utama. Proses berpikirlah yang menjadikan akal manusia memiliki nilai dan menghasilkan berbagai produk akal yang mampu membuat kehidupan dan manusia menjadi baik. Bahkan mampu menciptakan kebaikan bagi seluruh alam semesta beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya, termasuk benda-benda mati, tumbuhan dan hewan.

Berbagai macam ilmu, seni, sastra, filsafat, fikih (hukum), ilmu bahasa, dan pengetahuan adalah produk akal yang konsekuensinya juga merupakan produk proses berpikir. Oleh karena itu, demi kebaikan manusia, kehidupan dan alam semesta, harus diketahui fakta tentang akal disamping harus diketahui fakta mengenai proses berpikir dan metode berpikir.

Umat manusia dalam kurun waktu yang sangat panjang ternyata lebih menaruh perhatian pada buah akal dan buah proses berpikir daripada memberikan perhatian pada fakta mengenai akal dan fakta tentang proses berpikir itu sendiri. Pernah ada orang-orang yang berusaha untuk memahami fakta akal baik intelektual kaum Muslim maupun non-Muslim pada masa lalu ataupun masa sekarang. Tetapi, semuanya gagal dalam memahami fakta mengenai akal tersebut. Ada juga orang yang berusaha menyusun metode berpikir dan memang berhasil dalam beberapa aspek dari buah metode berpikir tersebut dengan adanya sejumlah prestasi ilmiah. Tapi, mereka telah tersesat dalam memahami fakta tentang proses berpikirnya. Mereka juga menyesatkan para pengikutnya yang merasa kagum terhadap keberhasilan ilmiah tersebut.    

Sebelumnya, sejak masa Yunani dan setelahnya, umat manusia telah terdorong untuk mengetahui fakta mengenai proses berpikir. Hasilnya, mereka sampai pada apa yang disebut dengan logika (‘ilmu mantiq) dan berhasil meraih sebagian pemikiran. Tapi mereka telah merusak hakikat pengetahuan itu sendiri. Jadi, ilmu logika malah menjadi sesuatu yang destruktif bagi pengetahuan bukan menjadi –seperti yang diharapkan dari logika- alat untuk mencapai ilmu pengetahuan atau menjadi standar kebenarannya. Mereka yang terdorong memahami proses berpikir juga telah sampai pada apa yang disebut dengan filsafat yaitu cinta kebijaksanaan dan studi secara mendalam tentang apa yang ada di balik eksistensi atau di balik materi (gaib, supernatural). Mereka memang berhasil menciptakan pengetahuan dan kesimpulan yang menghasilkan kepuasan intelektual. Tetapi pengetahuan tersebut jauh dari fakta dan kebenaran. Akibatnya, mereka menjauhkan manusia dari kebenaran dan fakta hingga menyesatkan banyak manusia serta menyimpangkan proses berpikir dari jalannya yang lurus.

Kajian tentang proses berpikir dan metode berpikir meskipun telah menghasilkan berbagai pengetahuan, menciptakan bidang pengkajian dan menghasilkan sejumlah manfaat bagi manusia, upaya-upaya itu tidak difokuskan pada fakta mengenai proses berpikir dan tidak berlangsung di atas jalan yang benar. Karena itu, upaya tersebut tidak dapat dianggap kajian mengenai fakta proses berpikir, tapi hanya kajian tentang produk proses berpikir. Upaya tersebut bukan kajian tentang metode berpikir yang lurus, tapi hanya sekedar kajian tentang salah satu teknik berpikir dalam metode berpikir yang diperoleh secara kebetulan akibat pengkajian berbagai produk pemikiran dan buah akal serta tidak diperoleh melalui jalan penelaahan terhadap fakta proses berpikir itu sendiri. Maka, dapat dikatakan bahwa kajian tentang metode berpikir yang lurus selama ini hanya berputar-putar pada hasil proses berpikir, tidak difokuskan pada fakta proses berpikir itu sendiri.

Penyebab kegagalan yang ada hingga kini dalam memahami fakta mengenai proses berpikir dan juga fakta metode berpikir dikarenakan para pengkaji telah lebih dulu mengkaji proses berpikir sebelum mengkaji akal itu sendiri. Padahal, fakta tentang proses berpikir itu tidak akan dapat dipahami kecuali setelah diketahui terlebih dulu fakta mengenai akal secara meyakinkan dan pasti. Ini karena proses berpikir adalah produk dari akal sementara berbagai ilmu pengetahuan, seni dan seluruh aspek ilmu budaya (tsaqofah) merupakan buah dari proses berpikir. Wajar saja jika pertama kali harus diketahui adalah fakta tentang akal secara meyakinkan dan pasti. Setelah itu, bisa diketahui fakta mengenai proses berpikir dan selanjutnya metode berpikir yang lurus. Setelah itu atas dasar petunjuknya, suatu pengetahuan akan bisa dinilai, apakah termasuk sains ataukah bukan. Maka akan dapat ditentukan bahwa kimia adalah sains, sementara psikologi dan sosiologi bukanlah sains. Akan dapat ditentukan pula apakah suatu pengetahuan termasuk kebudayaan atau bukan. Artinya, akan dapat ditentukan perundang-undangan adalah termasuk tsaqofah dan tashwir (seni menggambar) bukanlah termasuk tsaqofah. Walhasil, pokok masalahnya secara keseluruhan bermuara pada pengetahuan tentang fakta akal itu sendiri secara meyakinkan dan pasti. Setelah itu dan atas petunjuk pengetahuan tersebut, barulah bisa dibahas fakta mengenai proses berpikir dan metode berpikir. Berdasarkan petunjuk metode berpikir tersebut baru akan bisa dihasilkan secara benar berbagai teknik berpikir.

Itulah yang menjadi pokok permasalahannya, pengetahuan tentang sains dan kebudayaan haruslah merupakan produk dari pengetahuan tentang fakta proses berpikir, metode berpikir berserta berbagai teknik berpikirnya. Fakta proses berpikir itu sendiri haruslah merupakan buah dari pengetahuan tentang fakta mengenai akal. Atas dasar itu, harus diketahui fakta akal secara meyakinkan dan pasti, baru kemudian fakta tentang proses berpikir.

Definisi Akal Menurut Pemikir Komunis
Orang-orang yang mendefinisikan akal atau berusaha mengetahui fakta akal baik pada masa lalu seperti para filosof Yunani, para pemikir Muslim dan ilmuan Barat, maupun pada masa sekarang ini cukup banyak. Upaya yang dilakukan para pemikir komunis patut dipertimbangkan karena upaya mereka adalah upaya yang seriius tetapi definisi tersebut rusak karena sikap para pemikir komunis yang salah untuk terus mengingkari eksistensi pencipta alam ini. Jika tidak ada pengingkaran terhadap eksistensi sang Pencipta, niscaya mereka akan mencapai fakta mengenail akal secara meyakinkan dan pasti tentang fakta akal.

Para pemikir komunis memulai pembahasan mereka tentang fakta dan pemikiran dengan menyatakan “Apakah pemikiran itu ada sebelum adanya fakta? Ataukah fakta ada sebelum adanya pemikiran, sehingga pemikiran adalah buah dari fakta?” mereka berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagai menyatakan bahwa pemikiran itu ada sebelum adanya fakta sebagian lagi menyatakan fakta itu ada sebelum adanya pemikiran. Tapi pendapat final mereka adalah bahwa fakta ada sebelum pemikiran. Mereka menyatakan bahwa pemikiran adalah refleksi (pemantulan) fakta terhadap otak, artinya pengetahuan mereka tentang fakta pemikiran bahwa pemikiran terbentuk dari fakta, otak, dan proses refleksi fakta terhadap otak. Menurut mereka, pemikiran adalah hasil dari refleksi fakta terhadap otak. Pendapat ini menunjukkan adanya kajian yang benar, usaha serius dan mendekati kebenaran jika mereka tidak terus mengingkari eksistensi Pencipta alam dan tidak terus menyatakan bahwa alam ini bersifat tidak berawal dan tidak berakhir (azali), niscaya kesalahan dalam memahami fakta akal tidak akan terjadi. Memang benar, bahwa pemikiran tidak akan terbentuk tanpa adanya fakta. Setiap pengetahuan yang tidak akan ada faktanya hanyalah khayalan dan imajinasi semata. Artinya, fakta adalah asas pemikiran, sedangkan pemikiran itu sendiri hanya merupakan pengungkapan fakta atau penilaian terhadap fakta. Maka, fakta adalah asas pemikiran dan asas proses berpikir. Tanpa adanya fakta, tidak akan mungkin ada pemikiran dan proses berpikir.

Kemudian, penilaian terhadap fakta, bahkan setiap hal yang ada pada diri manusia ataupun yang dihasilkan oleh manusia sesungguhnya terkait erat dengan otak. Otak merupakan pusat utama dan mendasar yang ada para diri manusia karenanya, sebuah pemikiran tidak akan pernah terwujud kecuali setelah adanya otak. Otak sendiri adalah fakta. Dengan demikian, pemikiran, sebagaimana keberadaan fakta yang juga menjadi syarat mendasar bagi terwujudnya pemikiran. Walhasil, utnuk mewujudkan adanya akal yaitu proses berpikir atau adanya pemikiran haruslah adanya fakta dan otak.  

Para komunis telah berhasil menyimpulkan bahwa keberadaan akal mesti bergantung pada adanya fakta dan otak. Kebedaraan keduanya secara bersamaan merupakan syarat utama dan mendasar bagi eksistensi akal. Usaha mereka bisa dipandang sebagai usaha yang serius dan benar. Sayangnya, ketika berusaha mengaitkan fakta dengan otak untuk menghasilkan pemikiran atau untuk mewujudkan proses berpikir, mereka tergelincir dalam kekeliruan. Mereka menyimpulkan bahwa keterkaitan keduanya adalah proses refleksi fakta tersebut terhadap otak. Jadinya mereka keliru di dalam memahami fakta akal sehingga mereka juga keliru di dalam pendefinisian akal. Penyebab kekeliruan mereka adalah karena terus mengingkari eksistensi Pencipta yang telah menciptakan alam semesta ini dari ketiadaan. Jika saja mereka menyatakan bahwa pengetahuan mendahului pemikiran, mereka pasti akan mendapatkan kebenaran yang nyata. Dalam hal ini, pertanyaannya adalah, dari mana datangnya pemikiran yang muncul sebelum adanya fakta? Jawabannya pasti datang dari selain fakta. Pertanyaan selanjutnya, dari mana asalnya pemikiran pada manusia pertama? jawabannya, pemikiran itu mesti datang dari selain manusia pertama itu dan selain fakta. Artinya, manusia pertama dan seluruh fakta yang ada telah diwujudkan oleh Yang memberikan pengetahuan kepada manusia pertama itu. Ini berbeda dengan pengetahuan kaum komunis yang mereka anggap pasti bahwa alam dan fakta itu azali (eternal). Oleh karena itu, mereka mengatakan bahwa refleksi fakta terhadap otak adalah akal dan bahwa proses refleksilah yang membentuk pemikiran dan sekaligus proses berpikir.

Untuk menghindari keharusan adanya pengetahuan, kalangan komunis berusaha membuat bermacam-macam fantasi dan asumsi. Mereka menyatakan bahwa manusia pertama telah melakukan percobaan (eksperimen) atas berbagai fakta hingga menghasilkan pengetahuan. Percobaan-percobaan ini menjadi sejumlah pengetahuan yang akan membantu dirinya untuk mengadakan percobaan lain atas sejumplah fakta yang lain. Demikian seterusnya, mereka tetap berpendapat bahwa fakta dan juga refleksi otak terhadap fakta adalah akal atau pemikiran, yang akan mewujudkan adanya proses berpikir. Mereka tidak bisa melihat perbedaan antara penginderaan dan refleksi. Mereka juga tidak bisa melihat bahwa aktivitas berpikir tidak dihasilkan melalui proses refleksi fakta terhadap otak dan tidak juga dari terbentuknya kesan fakta pada otak, melainkan dihasilkan melalui proses penginderaan/pencerapan. Pusat penginderaan tersebut adalah otak. Andaikata tidak ada penginderaan fakta, tidak akan ada pemikiran apapun, dan juga tidak akan ada proses berpikir apapun. Dengan demikian, kegagalan mereka membedakan penginderaan dengan refleksi telah semakin menambah kesalahan mereka dan memalingkan proses berpikir dari jalan yang telah tempuh sebelumnya. Akhirnya, terbentuklah definisi mereka tentang fakta akal dan jatuhlah mereka dalam kekeliruan pendefinisiannya.

Tapi, yang menjadi asas kesalahan mereka bukan tidak adanya pembedaan antara penginderaan dan refleksi. Jika hanya karena faktor tersebut, mereka pasti akan menemukan kesimpulan bahwa masalahnya adalah penginderaan, bukan refleksi. Faktor mendasar dan asasi kesalahan dan penyimpangan mereka adalah pengingkaran mereka terhadap eksistensi Pencipta yang telah menciptakan alam semesta ini. Akibatnya, mereka tidak memahami bahwa keberadaan informasi terdahulu tentang fakta merupakan syarat yang mesti ada bagi adanya sebuah pemikiran atau proses berpikir. Informasi terdahulu merupakan syarat yang pasti untuk membentuk akal, atau agar pemikiran dan proses berpikir itu ada. Seandainya tidak demikian, niscaya keledai pun mempunyai akal, karena keledai memiliki otak dan merefleksikan fakta terhadap otak atau mengindera fakta. Padahal, akal merupakan karakteristik khusus yang hanya dimiliki manusia, hingga ada ungkapan lama bahwa manusia adalah hewan yang berpikir artinya, manusia adalah hewan yang dapat berpikir sebab proses berpikir atau akal hanya khusus dimiliki manusia sedangkan hewan atau yang lainnya tidak memiliki akal atau proses berpikir.

Definisi Akal Yang Shahih
Para pemikir komunis telah keliru mendefinisikan akal dan menyimpang dari jalan yang mereka tempuh untuk mencapai pengetahuan tersebut secara meyakinkan dan pasti tapi mereka telah membuka jalan bagi generasi sesudahnya yang menempuh jalan untuk mencapai pengetahuan tentang fakta akal secara meyakinkan dan pasti.

Kaum muslim mempunyai dalil yang menunjukkan bahwa informasi terdahulu tentang sesuatu merupakan perkara yang harus ada agar sesuatu tersebut dapat dipahami. Meskipun ini benar memang benar, perlu dipertimbangkan adalah bahwa definisi akal merupakan deskripsi mengenai suatu fakta dan yang dikehendaki dari definisi akal adalah agar seluruh manusia terikat dengan definisi tersebut. Maka dari itu, definisi akal harus dibangun atas dasar realitas yang ada yang dapat di indera, karena yang dikehendaki adalah agar seluruh manusia –bukan kaum muslim saja- terikat dengan definisi tersebut.

Di dalam al-qur’an, Allah SWT berfirman : “Allah telah mengajarkan (memberi informasi) kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Allah mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman : “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha tahu dan Maha bijaksana.” Allah berfirman, ”hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda-benda itu!.” Maka setelah Adam memberitahukan kepada mereka nama-nama benda-benda itu, Allah berfirman, Bukankah sudah Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui apa saja yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan? [TQS. Al-Baqarah [2]: 31-33]

Ayat ini menunjukkan bahwa informasi terdahulu mesti ada untuk sampai pada pengetahuan apa pun. Nabi Adam as telah diberi informasi oleh Allah SWT tentang nama benda-benda atau apa yang ditunjukkan oleh nama-nama tersebut. Oleh karena itu, ketika benda-benda tersebut disodorkan ke hadapan Nabi Adam, dia langsung mengetahuinya. Manusia pertama, yaitu Adam, sesungguhnya telah diberi sejumlah informasi oleh Allah hingga ia bisa mengetahui nama-nama benda-benda. Seandainya saja berbagai informasi tersebut tidak ada, Adam tentu tidak akan mengetahuinya. 

Ayat diatas menjelaskan bahwa proses berpikir mengharuskan adanya informasi terdahulu karena proses berpikir tidak akan bisa terwujud kecuali dengan adanya informasi terdahulu tentang fakta yang disodorkan ke dalam otak. Hanya saja, karena yang dikehendaki adalah agar seluruh manusia –bukan hanya kaum muslim saja- terikat dengan definisi akal, maka harus diketengahkan realitas yang ada yang dapat diindera yakni bahwa informasi terdahulu tentang fakta adalah sesuatu yang harus ada untuk mewujudkan pemikiran atau agar akal bisa terbentuk atau wujud. Ini disebabkan keberadaan akal sangat bisa terbentuk atau terwujud. Ini disebabkan keberadaan akal sangat bergantung pada adanya informasi terdahulu pada otak, meskipun fakta merupakan syarat penting bagi terwujudnya aktivitas akal, pemikiran atau proses berpikir. Dengan adanya informasi terdahulu, aktivitas berpikir atau eksistensi akal dapat diwujudkan.

Informasi terdahulu tentang fakta atau tentang apa saja yang berkaitan dengan fakta, merupakan perkara yang harus ada dalam mewujudkan akal atau kesadaran. Tanpa adanya informasi terdahulu, mustahil akal atau kesadaran dapat diwujudkan. Dengan begitu, akan diketahui makna akal, lalu definisi akal secara sahih dalam bentuk yang meyakinkan dan pasti.

Yang terjadi dalam proses berpikir atau aktivitas akal adalah penginderaan/pencerapan, bukan refleksi dapat dijelaskan bahwa sebenarnya tidak ada proses refleksi antara materi (fakta yang terindera) dan otak. Jadi otak tidak direfleksikan pada materi atau sebaliknya materi juga tidak direfleksikan pada otak, sebab refleksi (proses pemantulan) yang bisa merefleksikan sesuatu seperti halnya cermin dan cahaya. Jadi cermin dan cahaya membutuhkan kapasitas refleksi untuk memantulkan materi. Hal ini tidak ada pada otak ataupun materi, karena itu tidak ada sama sekali proses refleksi antara materi dan otak karena materi tidak direfleksikan ke dalam otak atau tidak dipindahkan kedalam otak. Yang berpindah adalah penginderaan (atau pencerapan) materi ke dalam otak melalui pancara indera. Artinya, panca inderalah –yang mana saja- yang mencerap materi. Lalu penginderaan tersebut berpindah ke dalam otak sehingga otak mampu mengeluarkan penilaian(hukm, judgement) atas materi.

Pemindahan penginderaan materi ke dalam otak bukanlah proses refleksi materi terhadap otak atau sebaliknya refleksi otak terhadap materi. Yang terjadi hanyalah penginderaan materi oleh panca indera. Tidak ada perbedaan antara mata dan indera lainnya. Maka proses penginderaan materi dapat terjadi melalui perabaan, penciuman, pengecapan, pendengaran, atau penglihatan. Dengan demikian, yang terjadi pada berbagai objek bukanlah refleksi terhadap otak, tapi penginderaan terhadap objek tersebut. Artinya, manusia mengindera benda-benda melalui panca inderanya, dan bukan benda-benda tersebut yang direfleksikan ke dalam otak manusia.

Kenyataan di atas sangat jelas, sejelas cahaya matahari yang menimpa objek-objek material, yakni bahwa pencerapan atau penginderaanlah yang sebenarnya terjadi. Sementara itu, dalam kaitannya dengan objek-objek non-material seperti objek-objek yang bersifat maknawi atau spiritual (ruhani), maka sebenarnya terjadi juga penginderaan (pencerapan) terhadap objek-objek tersebut hingga dihasilkan aktivitas berpikir terhadapnya. Berkenaan dengan suatu masyarakat yang mundur, harus terjadi penginderaan hingga dapat diputuskan bahwa suatu masyarakat mengalami kemunduran. Realitas kemunduran jelas bersifat material. Berkenaan dengan hal-hal yang menodai kehormatan, harus ada penginderaan mengenai penodaan yang terjadi atau penginderaan bahwa suatu benda atau tindakan telah menodai kehormatan. Dengan begitu, bisa diputuskan bahwa telah terjadi penodaan atau ada sesuatu yang tajam yang telah melukai atau menodai kehormatan. Ini adalah perkara yang bersifat maknawi. Demikian pula mengenai hal-hal yang bisa menimbulkan kemurkaan Allah, harus ada penginderaan terhadap (sebab) kemurkaan Allah yang terjadi, atau penginderaan terhadap tindakan atau sesuatu yang bisa menimbulkan kemurkaan Rabbul Izzati (Allah), yakni yang dapat menyulut api kebencian dan bara kemarahan bagi Adz-Dzat Al-‘Illiyah (Allah). Ini adalah masalah yang bersifat spiritual.

Tanpa adanya proses penginderaan dalam semua hal di atas, jelas tidak terwujud aktivitas akal. Proses penginderaan merupakan hal yang mesti ada agar terjadi aktivitas akal, baik untuk objek-objek material maupun non material. Hanya saja, proses pencerapan terhadap objek-objek yang bersifat material akan terjadi secara alamiah, meskipun akan dapat berlangsung secara kuat atau lemah sesuai pemahaman seseorang terhadap karakter objek yang dicerapnya. Oleh karena itu, para pemikir menyatakan bahwa pencerapan yang muncul dari kesadaran atau pemikiran adalah jenis pencerapan yang paling kuat. Sebaliknya, proses pencerapan terhadap objek non material sesungguhnya tidak akan terjadi kecuali dengan adanya pemahaman terhadapnya atau dengan jalan taklid.

Bagaimanapun keadaannya, fakta bahwa yang terjadi adalah proses pencerapan, bukan refleksi sesungguhnya merupakan hal yang nyaris merupakan aksioma (sesuatu yang tidak perlu dibuktikan lagi). Meskipun demikian, proses pencerapan terhadap objek yang bersifat material akan tampak lebih jelas dari pada objek yang bersifat maknawi. Masalah tersebut sebetulnya tidaklah mendasar karena bisa ditangkap oleh indera setiap orang dan tidak ada perbedaan pemahaman di antara mereka. Yang berbeda adalah pengungkapannya, yang terkadang berbeda dengan fakta yang sebenarnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh para pemikir komunis dengan istilah refleksi dan terkadang sesuai dengan fakta yang sesungguhnya, sebagaimana yang telah di ungkapkan dengan istilah pencerapan atau penginderaan. Yang menjadi sumber penyimpangan justru masalah informasi terdahulu tentang fakta. Inilah yang menjadikan penyimpangan kaum komunis semakin fatal. Ini pula yang menjadi point utama dalam pokok bahasan tentang akal atau merupakan hal dasar dalam aktivitas berpikir.

Kesimpulan dari pokok bahasan tentang informasi terdahulu adalah bahwa pencerapan saja tidak akan mewujudkan permikiran. Yang terjadi hanyalah pencerapan saja atau penginderaan terhadap fakta. Penginderaan yang diulang-ulang sampai jutaan kali sekalipun, meski dilakukan melalui berbagai jenis penginderaan tetap akan merupakan penginderaan saja dan sama sekali tidak akan menghasilkan pemikiran. Agar terwujud pemikiran, proses penginderaan harus disertai dengan adanya informasi terdahulu pada diri manusia, yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta yang diindera. Dengan demikian, baru akan terwujud pemikiran. Sebagai contoh, kita bisa menghadirkan seseorang yang ada sekarang, siapapun orangnya. Kita lantas memberikan kepadanya sebuah buku berbahasa Assiriya, sementara ia tidak mempunyai informasi apapun yang berkaitan dengan bahsa tersebut. Kita kemudian membiarkannya mengindera buku tersebut dengan cara melihat ataupun meraba. Kita memberinya pula kesempatan untuk mengindera buku tersebut sampai sejuta kali. Maka, ia pasti tetap tidak akan memahami satu kata pun dari buku tersebut. Baru setelah kita memberikan informasi kepadanya tentang bahasa tersebut atau hal-hal yang berkaitan dengan bahasa tersebut, ia akan mampu memikirkan dan memahaminya.

Tidak benar jika dikatakan bahwa realitas tersebut hanya berkaitan dengan bahasa yang merupakan buatan manusia, sehingga membutuhkan informasi tentang bahasa tersebut. Ini karena yang menjadi pokok bahasan adalah aktivitas berpikir, sedangkan aktivitas berpikir adalah aktivitas akal, apakah berupa aktivitas menilai sesuatu, memahami makna (kata) atau memahami kebenaran. Artinya, aktivitas berpikir adalah sama untuk segala hal. Berpikir tentang suatu masalah sama saja dengan berpikir tentang suatu opini. Memahami makna suatu kata sama dengan memahami makna suatu fakta. Masing-masing membutuhkan aktivitas berpikir, karena pada kenyataannya aktivitas tersebut sama dalam semua objek dan semua fakta.

Agar tidak menimbulkan perdebatan mengenai bahasa dan fakta, marilah kita mengambil contoh sebuah fakta secara langsung, kita mengambil seorang anak kecil yang sudah mempunyai kemampuan mengindera tetapi tidak memiki informasi. Kita letakkan di hadapannya sepotong emas, tembaga dan batu. Lalu kita membiarkannya mengindera dan mencerap benda-benda tersebut. Maka dia tidak mungkin bisa memahaminya, meskipun penginderaannya dilakukan berulang-ulang dengan berbagai macam panca inderanya. Akan tetapi jika ia diberi informasi terdahulu tentang ketiga benda tersebut kemudian dia menginderanya, maka dia akan menggunakan informasi itu hingga ia mampu memahami hakikat 3 benda tersebut. Andaikata anak tersebut telah dewasa hingga berusia 20 tahun, sementara dia tidak mempunyai informasi tentang apapun, maka keadaannya akan tetap seperti semula, yaitu hanya bisa mengindera benda-benda tanpa bisa memahaminya, meskipun otaknya telah mengalami perkembangan. Ini disebabkan, yang menjadikan dirinya bisa memahaminya meskipun otaknya telah mengalami perkembangan. Ini disebabkan, yang menjadikan dirinya bisa memahami sesuatu bukanlah otak, tapi informasi-informasi terdahulu disertai dengan fakta-fakta yang diinderanya. 

Dengan demikian, informasi terdahulu tentang suatu fakta atau yang berkaitan dengan fakta, adalah syarat mendasar dan utama demi terwujudnya aktivitas berpikir atau demi terbentuknya akal. Semua itu adalah penjelasan aspek kesadaran rasional yaitu kesadaran yang muncul dari akal. Adapun aspek kesadaran emosional yaitu kesadaran yang muncul dari perasaan, maka ia adalah kesadaran yang muncul dari naluri-naluri dan kebutuhan fisik. Kesadaran emosional ini, sebagaimana terdapat pada hewan, juga terdapat pada manusia. jika kita memberikan apel dan batu secara berulang-ulang, dia pasti akan tahu bahwa apel bisa dimakan sedangkan batu tidak bisa dimakan. Keledai pun akan mengetahui bahwa gandum (barley) bisa dimakan sedangkan tanah tidak. Namun demikian, kemampuan membedakan ini bukanlah pemikiran atau kesadaran, melainkan berasal dari naluri dan kebutuhan fisik. Hal ini terdapat pada hewan sebagaimana terdapat juga pada manusia. Dengan demikian, tidak mungkin terwujud pemikiran, kecuali jika terdapat informasi-informasi terdahulu disertai dengan proses transfer penginderaan  fakta melalui panca indera ke dalam otak.

 Apa yang menjadi ketidakjelasan bagi banyak orang adalah bahwa informasi terdahulu ini dianggap bisa dihasilkan melalui proses percobaan (eksperimen) yang dilakukan sendiri oleh seseorang atau bisa diterima dari pihak lain. Menurut mereka percobaan-percobaan bisa mewujudkan informasi. Percobaan yang pertama inilah yang akan mewujudkan aktivitas berpikir. Ketidakjelasan ini bisa dihilangkan hanya dengan memperhatikan dua hal, yaitu : (1) perbedaan otak manusia dengan otak hewan dilihat dari kemampuan masing-masing dalam mengaitkan fakta dengan informasi, dan (2) perbedaan antara aspek yang berkaitan dengan naluri dan kebutuhan fisik, dengan aspek yang berkaitan dengan penilaian atas berbagai benda, benda apakah itu.

Perbedaan otak manusia dengan otak hewan, ialah bahwa pada otak hewan tidak terdapat kemampuan mengaitkan informasi. Yang ada hanyalah kemampuan mengingat kembali penginderaan terutama ketika penginderaan dilakukan secara berulang-ulang. Kemampuan mengingat kembali ini, yang dilakukan hewan secara alamiah, khusus terdapat pada hal-hal yang berkaitan dengan naluri dan kebutuhan fisik. Tidak berkaitan dengan  perkara-perkara diluar dua hal ini. Jika Anda memukul lonceng dan memberi makan anjing ketika lonceng dipukul, maka-bila ini dilakukan berulang-ulang- anjing akan bisa mengerti bahwa jika lonceng dibunyikan, berarti makanan akan segera datang, sehingga mengalir air liurnya. Begitu juga dengan sapi yang sedang digembalakan akan menjauhi rerumputan yang beracun atau yang membahayakannya.

Contoh diatas tentang pembedaan yang bersifat naluriah sedangkan yang sering disaksikan orang, bahwa sebagian hewan yang telah dilatih mampu melakukan gerakan-gerakan/aktivitas-aktivitas tertentu yang tidak berkaitan dengan nalurinya, maka sebenarnya hewan itu melakukannya semata didasarkan pda proses mencontoh/meniru. Tidak didasarkan pada pemikiran/kesadaran. Ini karena pada otak hewan tidak terdapat kemampuan untuk mengaitkan informasi yang ada pada hewan hanyalah kemampuan mengingatkan kembali penginderaan dan kemampuan membedakan yang semata-mata muncul dari naluri. Setiap hal yang berkaitan dengan nalurinya akan diinderanya dan segala hal yang telah diinderanya akan mampu diingatnya kembali, terutama jika penginderaan itu dilakukan secara berulang-ulang. Artinya, apa saja yang berkaitan dengan nalurinya, akan dilakukan oleh hewan secara alamiah, baik melalui proses penginderaan/melalui proses mengingat kembali penginderaan tersebut.

Ini berbeda dengan otak manusia, pada otak manusia terdapat kemampuan mengaitkan informasi (dengan fakta) bukan hanya kemampuan mengingat kembali penginderaan. Informasi terdahulu harus ada dalam aktivitas pengaitan dan keunggulan manusia atas hewan terletak pada kemampuan mengaitkan informasi ini.
Jalan lurus yang bisa menyampaikan pada pengetahuan tentang makna akal secara meyakinkan pada pengetahuan tentang makna akal secara meyakinkan dan pasti adalah harus terwujudnya 4 komponen akal agar aktivitas akal bisa terwujud. Harus ada fakta, otak manusia yang normal, panca indera dan informasi terdahulu.

Berdasarkan penjelasan diatas, definisi akal/ pemikiran/kesadaran adalah pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera kedalam otak yang disertai adanya informasi-informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut.
Inilah satu-satunya definisi yang benar, yang mengikat seluruh manusia disetiap zaman karena ia merupakan satu-satunya definisi yang dapat mendeskripsikan fakta akal secara benar dan satu-satunya definisi yang tepat untuk fakta mengenai akal.

BAB II METODE BERPIKIR
Jika telah memahami makna dan definisi akal secara yakin dan pati, maka selanjutnya harus mengetahui metode yang digunakan akal dalam mencapai berbagai pemikiran.

Metode berpikir adalah cara yang menjadi dasar bagi berlangsungnya aktivitas akal/aktivitas berpikir sesuai dengan karakter dan faktanya. Metode berpikir tidak akan mengalami perubahan, harus konstan dan harus dijadikan asas berpikir, bagaimanapun variatifnya cara-cara berpikir.  

Metode Rasional
Metode rasional adalah metode tertentu dalam pengkajian yang ditempuh untuk mengetahui realitas sesuatu yang dikaji dengan jalan memindahkan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera kedalam otak disertai adanya informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. Selanjutnya, otak akan memberikan penilaian terhadap fakta tersebut. Selanjutnya, otak akan memberikan penilaian terhadap fakta tersebut. Penilaian ini adalah pemikiran/kesadaran rasional.
Pemikiran yang dicapai melalui metode rasional jika berkaitan dengan keberadaan sesuatu, seperti masalah-masalah akidah (pemikiran yang bersifat pasti). Jika berkaitan dengan realitas dari sesuatu/sifat sesuatu, seperti dugaan yaitu bahwa benda tertentu hukumnya diduga kuat adalah begini/perkara tertentu hukumnya diduga kuat yaitu begitu. Pemikiran-pemikiran ini adalah benar yang mengandung salah. Tapi pemikiran tersebut dipandang benar sampai bisa dibuktikan kesalahannya. 

Metode ilmiah
Barat-Eropa dan Amerika dan di ikuti Rusia, telah berhasil melahirkan revolusi industri di Eropa dan sukses dalam ilmu-ilmu empiris/eksperimental dengan keberhasilan yang tiada bandingannya. Hegemoni Barat telah meluas sejak abad ke 19 hingga sekarang, pengaruh mereka meliputi seluruh dunia. Cara dalam penelitian (riset) ilmu-ilmu empiris ini mereka namakan metode ilmiah dalam berpikir. Para pemikira komunis pun lalu mengadopsi metode tersebut dan menerapkannya pada selain ilmu-ilmu eksperimental, sebagaimana mereka menerapkannya pada ilmu-ilmu eksperimental. Para pemikir Eropa tetap menggunakan metode tersebut untuk ilmu-ilmu eksperimental dan ini diikuti pula oleh para pemikir Amerika. Seluruh penduduk bumi pun lalu mengikuti langkah mereka, sebagai akibat pengaruh dan hegemoni Barat dan Uni soviet. Akibatnya, metode ilmiah telah mendominasi manusia secara umum. Semua ini mengakibatkan munculnya sakralisasi terhadap pemikiran-pemikiran ilmiah dan metode ilmiah di seluruh Dunia Islam. oleh karena itu, harus ada penjelasan tentang metode ilmiah ini.

Metode ilmiah adalah metode tertentu dalam pengkajian yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan tentang realitas dari sesuatu melalui jalan percobaan objek-objek material yang dapat diindera. Metode ilmiah tidak dapat digunakan dalam pengkajian pemikiran-pemikiran.
Yang salah adalah menjadikan metode ilmiah sebagai asas dalam berpikir, karena menjadikannya asas berpikir tidaklah sesuai kenyataan. Ini disebabkan metode ilmiah bukanlah suatu basis yang di atasnya dibangun cabang di atas suatu basis.  Metode ilmiah merupakan salah satu cara berpikir yang konstan. Metode ilmiah tidak bisa diterapkan dalam semua objek, tetapi hanya bisa diterapkan pada satu objek saja yaitu objek material yang dapat diindera, untuk mengetahui realitas materi yang diteliti melalui jalan percobaan.
  
 --> to be continue... selanjutnya akan dibahas metode berpikir, contoh-contoh aktivitas berpikir, berpikir memahami teks-teks.

1 comments:

Faiz Syahrudin said...

Terima kasih telah berbagi...
maju terus blognya...
wassalam...