Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, “Siapa Saya ini?” pertanyaan ini hadir ketika kita tidak mengenal diri sendiri, tidak mengenal potensi diri, kemampuan, kreativitas & akal kita. Kebodohan ini sampai pada tingkatan dimana setiap kita mendengar kabar bahwa seseorang hafal Qur’an atau sekumpulan hadits, kita tercengang sembari memelototkan mata.
Bahkan, kebodohan ini sampai pada tingkatan dimana ketika kita membaca atau mendengar perjalanan hidup orang sebelum kita atau kita melihat sesuatu dari peninggalan mereka, maka kita membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang diciptakan dengan bakat bawaan sebagaimana yang sering dikatakan bahwa mereka adalah manusia yang luar biasa sebagaimana yang sering kita dengar. Kebanyakan kita meratapi diri dan mengharap seandainya kita bisa seperti mereka dan yang lebih parah lagi adalah di antara kita ada yang merasa senang dengan keadaan dirinya. Ridha karena merasa puas dengan apa yang hanya dimiliki tanpa ada keinginan kuat untuk menuntut ilmu agar bisa menggapai kemuliaan disisi Allah SWT, sembari beranggapan bahwa Allah telah memberikan kepada mereka (ahli al-Qur’an dan hadits) apa yang tidak diberikan kepadanya. Sungguh, sekiranya ia tahu apa yang membuat mereka seperti itu, niscaya ia akan berhenti terkagum (lantas melakukan tindakan nyata untuk bisa seperti mereka).
Wahai saudaraku yang mulia, ikutlah bersamaku agar kita bisa mengetahui keadaan diri kita terlebih dahulu, setelah itu kita dapat meletakkannya pada tempat yang tepat sesuai dengan tujuan penciptaannya. Dengan ilmu, maka sesuatu yang tersembunyi dapat disingkap, segala urusan menjadi jelas, hingga segala sesuatu yang memiliki hak diberikan sesuai dengan haknya. Oleh karena itu, hendaknya kita semua bertanya pada diri kita “Siapa sebenarnya Aku? Apa kelebihanku dibandingkan makhluk-makhluk Allah lainnya hingga Aku dijadikan-Nya sebagai khalifah di muka bumi ini?” Maka, kita akan memperoleh jawaban yang teramat gamblang dari setiap lisan, “Sesungguhnya kelebihan tersebut adalah akal”
Otak yang berbentuk gumpalan daging kecil ini memiliki kemampuan untuk menangkap, memahami, menghafal dan menciptakan sesuatu. Akal adalah mukjizat dan ciptaan Allah yang menakjubkan dan mengagumkan, akal adalah bukti keagungan dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Para ahli ilmu telah menyingkap bahwa otak itu terdiri dari beberapa sel kecil yang dinamakan neuron. Jumlahnya mencapai 10 milyar sel dalam satu otak.
Prof Mark Rosensen Weiz dari Universitas California telah menghabiskan bertahun-tahun lamanya untuk mempelajari kemampuan penyimpanan memori pada otak manusia. Ia berhasil menyingkap bahwa kemampuan penyimpanan memori pada otak manusia sangat besar, hingga tak seorang pun mampu menghitungnya. Ia mengungkapkan bahwa seandainya otak disuplai secara sempurna dengan informasi-informasi baru sebanyak 10 informasi setiap detiknya, maka diperkirakan selama 60 tahun siang-malam tanpa henti penyuplaian informasi ini tidak akan memenuhi otak manusia.
Wahai saudaraku yang mulia, tidak pantaskah Anda duduk menemani diri sendiri dan berpikir sejenak mengenai kekuatan yang besar dan kemampuan yang menakjubkan ini? Sungguh, Allah telah menitipkannya pada Anda.
Tidak layakkah Anda bangkit dari kelalaian guna mengisi jalan hidup Anda dengan cahaya terang yang diberikan oleh Allah kepada Anda? Telah tiba waktunya bagi kita untuk mebersihkan noda dari hati kita. Telah tiba masanya menjauhi mendung yang menutupi mata kita. Sehingga, kita mampu mewujudkan hal yang paling baik dalam hidup ini. Marilah bersama-sama kita mulai perjalanan yang akan mengubah diri kita dengan izin Allah!
Hendaknya kita yakin akan kemampuan diri dan akal kita, hendaknya kita yakin bahwa akal kita mampu mengoptimalkan kinerja akal kita. Sudahkah kita mengetahui kemampuan akal kita yang menakjubkan? Apakah kita masih belum juga menghafal al-Qur’an? Ketika kita mulai menghafal qur’an dengan metode yang teratur, kita dapat menghafal lebih dan lebih lagi. Sebagaimana telah kita lihat dari pengalaman para penghafal qur’an, sesungguhnya mereka memulai dengan beberapa halaman dalam sehari lalu semakin bertambah dan bertambah halaman yang mereka hafal setiap harinya sampai mereka khatam. Maka dengan prinsip ini, kapasitas akal kita akan terus bertambah dan kita akan dapat menambah beberapa halaman yang telah kita hafal dengan izin Allah.
~artikel ini dikutip dari buku Kaifa Tahfadzh al-Qur’an al-Karim fi Syahr karya Ir. Amjad Qasim~
0 comments:
Post a Comment