Buku Komunikasi Efektif, Suatu Pendekatan Lintas Budaya ini karya Prof. Dr. Deddy Mulyana, M.A
Komunikasi adalah proses berbagai makna melalui
perilaku verbal dan nonverbal. Segala perilaku dapat disebut komunikasi jika
melibatkan 2 orang/lebih. Betapa pentingnya pemahaman atas komunikasi &
keterampilan melakukannya untuk lebih membuat hidup kita bermakna dan
sejahtera, khususnya dalam komunikasi dengan pihak lain yang berbeda budaya,
sesempit/seluas apapun perbedaan budaya tersebut.
Buku ini membantu untuk memahami bagaimana perbedaan
budaya mempengaruhi praktik komunikasi, mengidentifikasi kesulitan yang muncul
dalam komunikasi antar budaya dan membantu Anda mengatasi masalah tersebut.
Komunikasi efektif memiliki kemampuan untuk :
1.
Memilih dan menampilkan perilaku komunikasi yang layak untuk
berbagai keadaan.
2.
Menjadikan Anda mampu berkomunikasi efektif dalam situasi
asing. Kita semua mengalami stress dalam situasi asing. Komunikator lebih
efektif mengenali dan menangani stress tersebut.
3.
Mengenali pengaruh yang ditimbulkan budaya Anda sendiri atas
cara pandang Anda terhadap diri sendiri. Komunikator lebih efektif memahami
diri sendiri dan kurang terancam oleh orang-orang dengan latar belakang
berbeda.
4.
Memperluas pengetahuan Anda tentang budaya lain, komunikator
lebih efektif mengetahui banyak tentang norma dan nilai budaya lain.
Kegagalan berkomunikasi sering menimbulkan
kesalahpahaman, kerugian dan bahkan malapetaka.
Mendefinisikan
Komunikasi
Untuk menjadi seorang komunikator yang efektif, kita
harus berusaha menampilkan komunikasi (baik verbal/nonverbal) yang disengaja
seraya memahami budaya orang lain. Trenholm dan Jensen mendefinisikan budaya
sebagai seperangkat nilai, kepercayaan, norma dan adat istiadat, aturan dan
kode yang secara sosial mendefinisikan kelompok-kelompok orang, mengikat mereka
satu sama lain dan memberi mereka kesadaran bersama.
Budaya memiliki ciri-ciri :
·
Budaya bukan bawaan tapi dipelajari
·
Budaya dapat disampaikan dari orang keorang, dari kelompok ke
kelompok dan dari generasi ke generasi
·
Budaya berdasarkan simbol
·
Budaya bersifat dinamis, suatu sistem yang terus berubah
sepanjang waktu
·
Budaya bersifat selektif, merepresentasikan pola-pola
perilaku pengalaman manusia yang jumlahnya terbatas
·
Berbagai unsur budaya saling berkaitan
·
Etnosentrik (menganggap budaya sendiri sebagai yang
terbaik/standar untuk menilai budaya lain)
Pentingnya kepekaan antar budaya, sudah saatnya
mengatasi perselisihan dan konflik antar budaya.
Agama sebagai
pandangan Dunia
Seorang siswi berdarah Pakistan kelahiran Los Angeles,
murid sebuah SMA di Houston, menolak tugas dari guru psikologinya untuk menulis
laporan tentang pendekatan untuk mengajak lawan jenis pergi ke pesta dansa.
Sebagai ganti tugas itu, Nishat mempresentasikan sebuah makalah tentang peran
wanita dalam Islam.
Nishat maju kedepan kelas dengan penuh percaya diri.
Ia yakin bahwa Allah akan menolongnya dalam mengemukakan pandangannya dan
menjawab setiap pertanyaan yang muncul. Uraiannya cukup singkat tetapi padat
dan jelas. Selama ia berbicara, ia mendengar gumaman/celetukan beberapa
temannya.
“Nilai wanita muslim itu terutama terletak pada
pengabdiannya kepada Tuhannya dan kebajikannya kepada sesama manusia, berbeda
dengan nilai wanita Amerika yang terutama terletak pada penampilan fisiknya.
Kecantikan wajah, kemolekan tubuh, pakaian dan sebagainya. Keelokan fisik
wanita muslim hanyalah bagi suaminya, sementara keelokan fisik wanita Amerika
boleh dinikmati lelaki mana saja, oleh karena itulah sebagai wanita muslim,
saya diwajibkan mengenakan pakaian seperti ini dan menghindarkan diri dari
pergaulan bebas dengan lelaki. Contoh berikut dapat melukiskan perbedaan sikap
terhadap keelokan fisik tersebut. Bila seorang lelaki memuji kecantikan seorang
wanita muslim, wanita itu dan suaminya akan merasa tersinggung. Sebaliknya,
bila pujian itu ditujukan kepada seorang wanita Amerika, ia dan suaminya akan
merasa senang.
Dengan demikian, wanita muslim takkan kehilangan
nilainya dengan bertambahnya usia karena nilainya tidak ditentukan oleh daya
tarik fisik. Sebaliknya, wanita Amerika sering merasa kehilangan sebagian nilai
dan statusnya karena keelokan fisiknya menurun dengan bertambahnya usia.
Itulah antara lain yang diutarakan Nishat, kelas
menjadi agak riuh. Tampaknya ada orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat
Nishat, beberapa wanita malah merasa tersinggung karena terpojokkan. Beberapa
pertanyaan mengemuka, Nishat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaik-baiknya.
Gaya pikir, sikap dan perilaku wanita muslim tidak
normal, karena berlawanan dengan norma-norma siswi masyarakat yang umum”
komentar seorang siswi agak emosional “ bagi saya, normal itu tidak berarti lazim dan sesuai
dengan pola-pola sosial yang ada, bila kita mendefinisikan sesuatu yang normal
itu sebagai sesuatu yang lazim terjadi, apakah Anda juga menganggap normal
terkait dekadensi moral yang selama ini telah terjadi dinegeri ini, seperti
homo, kejahatan, alkoholisme, kekerasan remaja & pergaulan bebas antara
pria dan wanit terus meningkat?” jawab Nishat, sekaligus balik bertanya, tak ada
jawaban, kelas hening sesaat.
“Kalau Anda berpendapat demikian, betapa relatif dan
dangkalnya definisi normal tersebut karena harus sesuai dengan kondisi-kondisi
masyarakat yang berubah. Bagi saya sebagai wanita muslim, normal itu berarti
sesuai dengan aturan-aturan Tuhan, meskipun aturan-aturan Tuhan itu berbeda
dengan aturan-aturan manusia. saya mengerti bila masyarakat Amerika menganggap
saya abnormal karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan norma-norma yang ada.
Tapi itu tidak apa-apa bagi saya, karena Islam telah memberi saya suatu standar
tentang kriteria kenormalan yang membuat saya nyaman dan damai dengan diri saya
sendiri”
1 comments:
Subhanallah, indah sekali....
Post a Comment